Learning, Sharing and Inspiring
Sejak meledak tahun 2009, skandal Bank Century seolah terus menerus membayangi kehidupan politik Indonesia. Pelanggaran yang dilakukan otoritas keuangan sejak bank ini berdiri kemudian sampai ditalangi pemerintah sampai Rp 6,7 triliun masih belum menemukan titik temu siapa yang bersalah. Apa motif penyelematan bank itu yang riil apakah karena bahaya sistematis saat itu karena krisis finansial ekonomi dunia ataukah penyelamatan nasabah tertentu?
Apakah ada motif politik atau semata ekonomi ? Audit investigasi, Panja dan Audit Forensik ternyata masih belum terungkap adanya kesalahan dan penyimpangan dalam kasus yang telah menyandera panggung politik Indonesia sedemikian lama ini. Kalangan politisi masih penasaran karena kasus heboh ini belum menemukan “otak” pelakunya. Sementara sebagian pelakunya sendiri sudah menghilang dari negeri ini atau masih buronan.
Babak baru skandal Century ini terletak dalam perdebatan yang tidak berhenti antara mereka yang mengatakan masalah sudah selesai dengan mereka yang masih penasaran. Mereka yang menganggap hasil BPK ini sudah selesai ingin menunjukan tidak ada aliran dan mencurigakan seperti yang diduga sebagian pihak. Katanya tidak ada aliran dana yang melanggar hukum.
Sebagian lagi mengatakan tidak puas dengan hasil audit BPK yang mundur dibandingkan tahun 2009. Mereka masih ingin menjadikan isu ini sebagai salah satu masalah politik bukan lagi di ranah auditing. Yang dimaksud di sini adalah bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat yang kemudian menilai penyelamatan Century diperlukan meski bank ini kecil dan sakit-sakitan. Harus diselamatkan meski keluar dana besar dari kas negara.
Inilah yang kemudian belum selesai sampai sekarang. Tahun 2012 ketika pemilu tinggal dua tahun lagi beberapa parpol kemungkinan masih akan mengangkat isu ini meskipun saat ini Bank Century yang berubah menjadi Bank Mutiara masih eksis. ***
Di tengah anugerah kemakmuran yang dirasakan di Indonesia terdapat sesuatu yang masih kurang dirasakan. Kekurangan ini semakin menjadikan berlimpahnya harta benda di sebagian kalangan seperti tidak memberi makna kepada kemakmuran itu sendiri. Terkesan bahwa masih ada ketimpangan yang semakin lebar dalam menerima kemakmuran tersebut.
Angka statistik bisa berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi 6-7%. Artinya kemakmuran semestinya dirasakan di semua lapisan masyarakat. Kecukupan itu seharusnya disertai kenyamanan dan keamanan. Angka kemiskinan juga dilaporkan menurun sampai 30 jutaan jiwa. Bahkan gelombang krisis ekonomi Eropa dan Amerika masih belum menyapa Indonesia. Negeri ini bagaikan surga di tengah kemuraman dunia sehingga para investor melirik lagi jamrut khatulistiwa ini.
Di tengah gempita pembangunan ekonomi yang entah bagaimana berkinerja baik – kata pengamat itu bukan hasil semata dari pemerintah tetapi karena semangat rakyat dalam ekonomi riil – masih ada kekosongan jiwa. Kekosongan arah kehidupan bangsa. Kekosongan akan ruh yang mampu menyetir kemakmuran ini untuk investasi manusia di masa depan.
Segalanya seperti kosong karena ketika kelas menengah yang konon lebih dari sepuluh juta yang mapan meski versi lain menyebut sudah mencapai 50 jutaan, sibuk dengan urusan dirinya dalam mempercantik diri. Mereka sibuk mempercantik rumah, mobil dan gadget. Mereka seperti menikmati materi saja tanpa arah dan semangat keindonesiaan.
Inilah yang sedang dicari oleh Indonesia. Para pemimpin formal seperti tidak memberikan inspirasi karena sibuk dengan urusan parpol masing-masing. Urusan untuk membangun citra. Urusan untuk konsolidasi pemilu 2014. Urusan untuk memenangkan pilkada. Semuanya hanya pada perebutan kekuasaan bukan pada pengelolaan negeri dengan ruh untuk terbang tinggi dengan modal sekarang.
Ketika pidato-pidato Bung Hatta, Bung Karno dan Bung Tomo sekalipun mampu memberikan inspirasi tentang perjuangan menuju Indonesia merdeka, makmur dan gemilang, pidato pemimpin sekarang dianggap hanya kampanye saja. Hanya membenarkan dirinya sebagai sumber keberhasilan sekarang bukan menebarkan inspirasi yang menggairahkan.
Pemimpin di posisi apapun tugasnya tidak hanya bersifat manajerial namun lebih dari itu memberikan inspirasi di sekelilingnya untuk bangkit dan menyingsingkan lengan baju untuk giat menyongsong masa depan. Apalagi mereka yang memangku jabatan dalam pemerintahan maka fungsinya sebagai inspirator sangat dibutuhkan. Inspirator itu bisa muncul dari perkataan atau lebih kuat lagi dari perbuatan. Teladan pemimpin yang menginspirasi lebih kuat gemanya dari sekedar kata-kata.
Di level nasional kehadiran Menteri BUMN Dahlan Iskan yang naik KRL untuk sidang kabinet memberikan nuansa bagaimana seorang pemimpin tidak hanya mencari sensasi namun menjadikan dirinya dekat dengan rakyat. Meski hanya satu kali saja namun ada satu perasaan dalam sebagian masyarakat bahwa itulah seharusnya profil pemimpin formal dalam mendekatkan diri dengan warga. Kunjungan mendadak ke pasar bisa saja terkesan merakyat namun lebih sering dilihat sebagai formalitas belaka.
Kontak sejati antara pemimpin dan rakyat, antara mereka yang memangku kekuasaan dengan mereka berada di dalam masyarakat semestinya dibangun bukan berasal dari formalitas belaka. Semangat untuk menuju Indonesia gemilang seharusnya menjadi satu ruh yang menyatukan kita. Tidak ada lagi lagak polisi yang atas nama ketertiban lalu bergerak dengan korban jiwa berjatuhan. Inilah yang kemudian membuat sesak sekali masyarakat.
Indonesia 2012 masih menantikan kiprah para pemimpin sejati yang meniupkan semangat kehidupan bukan spenindasan. Ruh Indonesia yang hilang karena pemimpin mengejar mimpi pemilu jangka pendek seharusnya digantikan dengan pemimpin yang memiliki jati diri mengabdi bangsa meski hanya dari bawah bukan di suprastruktur. Semangat ini saat ini dibawa oleh para motivator yang berbisnis melalui seminar dan pelatihan. Seharusnya motivator bangsa ini dipikul oleh mereka yang memangku jabatan resmi dan tentu saja para tokoh masyarakat. (Asep Setiawan)
Dengan berkembangnya citizen journalism atau jurnalisme warga, berita sekarang dapat dibuat oleh siapapun. Pegiat jurnalistik tidak terbatas pada mereka yang bekerja di bidang jurnalistik tetapi sudah melibatkan hampir semua orang. Akses terhadap teknologi informasi yang semakin luas membuat kesempatan semakin besar bagi banyak orang untuk menjadi jurnalis dadakan. Kadang-kadang laporan mereka cepat karena hadir di tempat kejadian. Dengan telepon pintar di tangan mereka bisa menulis di Twitter atau Facebook untuk berita langsung terjadi. Lalu mereka bisa menulis juga di sebuah blog.
Perkembangan inilah yang menyebabkan tumbuh istilah yang disebut pro-summer atau producer-consumer. Setiap orang terbuka peluang menjadi produser berita dan sekaligus sebagai konsumen informasi yang disediakan media massa.
Salah satu konsekuensi perkembangan ini maka jurnalis tidak hanya sebagai gate-keeper atau penjaga gawang lalu lintas informasi saja. Peran mereka bertambah yakni sebagai authenticator dan contextualizer.
Pertama, sebagai authenticator kalangan jurnalis profesional ini berperan membantu masyarakat pengguna informasi untuk menyeleksi banjir informasi. Jurnalis juga akan memberikan identifikasi mana berita yang dapat dipercaya, kredibel dan dapat diyakini kebenarannya serta akurasinya.
Kedua, sebagai contextualizer peran jurnalis adalah menyediakan laporan lebih dalam lagi sehingga audiens dapat mengetahui apa artinya informasi yang diterimanya itu, mengaitkannya dengan kehidupan mereka sehingga bisa memanfaatkan informasi itu untuk digunakan apakah dalam pengambilan keputusan atau langkah-langkah kehidupan mereka dalam jangka pendek atau panjang.
Dengan kata lain jurnalis profesional akan menyusun serpihan informasi yang banyak dalam satu kesatuan dan menyampaikannya kepada audiens dalam satu cerita. Kemudian juga jurnalis profesional ini memiliki peran dalam mengungkapkan sesuatu yang selama ini masih rahasia atau misteri.
Peran yang menonjol dari sekedar gate keeper menjadi authenticator dan contextualizer ini akan membuka peluang baru serta model baru dalam pemberitaan dan pembuatan feature baik format jurnalistik cetak, audio, televisi dan bahkan online. (Asep Setiawan)
Manuver Amerika di Asia Tenggara tampaknya semakin agresif. Kita lihat misalnya bagaimana Amerika mengadakan latihan militer gabungan dengan Filipina meski terkesan rutin. Kemudian perkembangan terakhir, Presiden Barack Obama dalam kunjungan ke Australia mengukuhkan penempatan 2500 Marinir di Darwin.
Kini dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton ke Myanmar maka Washington seolah ingin memberikan pesan kepada kawasan bahwa target AS hadir di Asia Tenggara tidak main-main. Kunjungan Hillary ini pertama kali setelah sekitar 50 tahun terakhir. Menlu AS yang pernah berkunjung ke negeri yang dikuasai militer ini adalah tahun 1955.
Begitu Hillary datang, Amerika langsung memberikan pesan kepada Myanmar agar menjauhkan diri dari Korea Utara. Alasannya, Korut adalah musuh Amerika dan terlibat dalam perluasan senjata nuklir di semenanjung Korea.
Menlu Hillary Clinton mengatakan kira-kira kalau mau bersahabat dengan Amerika maka jauhi Korut. Pesan ini secara tersirat mengkritik dekatnya Myanmar dengan China, sekutu Korea Utara.
Pendekatan keamanan
Amerika Serikat jelas memanfaatkan perkembangan di Maynmar dengan menganggapnya sudah jauh lebih baik. Selama ini Washington paling getol untuk mendesak agar Myanmar dihukum karena masalah demokrasinya yang tidak beres. Pengekangan terhadap Aung San Suu Kyi yang menjadi ikon gerakan pro demokrasi Myanmar dijadikan alasan bagi Amerika untuk menjauhi Myanmar dan mengajak sekutunya mencegah terlalu dekat ke Myanmar.
Kini dengan ruang yang diberikan kepada Aung San Suu Kyi lebih luas lagi maka Washington bergerak cepat melakukan pendekatan. Kunjungan Hillary merupakan isyarat adanya perubahan besar sikap Amerika terhadap Myanmar. Dari pendekatan sanksi ke pendekatan persuasif.
Di samping itu, pendekatan dengan isu hak asasi manusia dan demokrasi kini seolah digantikan dengan pendekatan keamanan. Amerika lebih mengutamakan keamanan di Asia Tenggara dengan menjalin persahabatan sekaligus membangun kekuatan militer. Beratnya masalah demokrasi dan HAM di Myanmar tidak menyurutkan Hillary untuk segera bertandang ke Myanmar.
Pendekatan keamanan Amerika ini dalam kerangka yang lebih luas di Asia Tenggara dan khususnya keamanan Laut China Selatan. Kestabilan kawasan Asia Tenggara yang kini menikmati booming pertumbuhan ekonomi merupakan pasar yang empuk bagi Amerika.
Pembelian 230 unit pesawat Boeing dari Amerika oleh Lyon menunjukkan prospek stabilitas Indonesia dan Asia Tenggara di tengah krisis Eropa dan Amerika. Total pembelian ini mencapai 21,7 miliar dollar atau sekitar Rp 195 triliun. Betapa pentingnya ekspansi bisnis ini bahkan penandatanganannya disaksikan Presiden Barack Obama. Kini Hillary juga bergerak cepat dengan pertemuan dengan tokoh politik Myanmar termasuk Aun San Suu Kyi. Dengan pasar Myanmar sejumlah 60 juta, Amerika yang tengah dilanda krisis keuangan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Perlahan tapi pasti Washington akan mendorong pengusahanya masuk ke pasar yang dikuasai China ini.
Kehadiran militer
Tekad Amerika untuk mengamankan Asia Tenggara khususnya Laut China Selatan dan juga Freeport di Papua dikukuhkan dengan pengiriman 2500 Marinir untuk ditempatkan di Australia. Meskipun dibantah adanya kaitan dengan peningkatan kehadiran militer AS di Asia dengan ancaman di Laut China Selatan namun reaksi Beijing menunjukkan sebaliknya. Penguatan personil militer ini tetap dipandang China merupakan politik intimidasi Amerika terhadap negeri panda ini.
Kehadiran Amerika di Asia sebenarnya sudah diakui dan tidak dipandang ancaman bagi China. Sebelumnya Amerika hadir dengan 29.086 personil di Korea Selatan dan 35.688 personil di Jepang. Amerika juga mengkonsentrasikan pasukannya sampai 17.000 personil di Pulau Okinawa.
Amerika juga memiliki Commander Logistic Group Western Pacific di Singapura didukung 85 personil. Demikian juga Amerika sudah lama memilikipangkalan laut dan udara di Guam.
Dengan semakin dekatnya pasukan AS ke Asia Tenggara maka pesan yang hendak disampaikan Washington ke negara Asia termasuk China adalah bahwa Paman Sam ingin wilayah regional ini tidak dibayangi Beijing saja. Washington ingin memberikan jaminan kepada sekutunya bahwa Amerika masih mampu mengambil sikap tegas dalam tempo singkat. Kehadiran Marinir Amerika dalam jumlah lebih dari dua ribu ini menjadi semacam peringatan dini bagi Cina untuk tidak bermain-main lagi di kawasan Laut China Selatan.
Namun sebagian negara-negara anggota ASEAN, peningkatan kehadiran AS secara militer ini lebih memberikan dampak kurang menguntungkan. Hadirnya kekuatan besar Pasifik seperti Amerika bagaikan pengalihan kekuatan dari Timur Tengah dan Atlantik ke ceruk yang lagi makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada saat negara-negara Asia Tenggara menikmati stabilitas ekonomi ini, Eropa dan Amerika berada pada titik yang meresahkan.
Dan tampaknya Washington secara sengaja ingin menunjukkan diri bahwa ada juga sekutu yang memintanya hadir lebih jelas di Asia seperti Australia. Belum kalau dihitung anggota ASEAN sendiri seperti Filipina sangat menginginkan masuknya Amerika karena khawatir dominasi China di Asia Tenggara akan lebih menakutkan karena Manila memiliki masalah teritorial dengan Beijing di Laut China Selatan.
Persaingan dua kekuatan besar China dan Amerika Serikat tampaknya akan semakin kentara sejalan dengan kebutuhan Amerika terhadap sekutunya di Asia. China yang selama ini nyaman karena memiliki postur kuat menghadapi negara kawasan dalam konflik teritorial kini tidak dapat lagi bebas begitu saja. Paman Sam tampaknya akan mengawal sekutunya di Asia Tenggara yang tentu tidak menyenangkan Beijing. ***
Sebelum bertolak ke Indonesia, Presiden AS Barack Obama hari Kamis (17/11) di Canberra, Australia, mengatakan, militer AS ingin memperluas peran di Asia Pasifik. Fokus kegiatan militer akan dialihkan dari Irak dan Afganistan ke Asia, dan lebih khusus ke Asia Tenggara. (Kompas 18/11).
”Saat kita mengakhiri perang, saya telah mengarahkan tim keamanan nasional agar keberadaan dan misi militer di Asia Pasifik dijadikan sebagai prioritas,” kata Obama saat menjabarkan visi AS bagi kawasan Asia Pasifik di depan parlemen Australia.
Kemudian Obama menjelaskan, ”Meski ada pemotongan anggaran pertahanan, AS tidak akan, saya ulangi, tidak akan mengorbankan Asia Pasifik,” kata Obama.
Dalam bagian lain untuk menepis kekhawatiran Beijing Obama mengatakan,”Kami akan mencari peluang untuk bekerja sama dengan Beijing, termasuk komunikasi yang lebih baik di antara militer untuk mempromosikan pemahaman dan menghindari salah perhitungan.”
Komitmen Obama ini kemudian diwujudkan dengan penempatan 2.500 Marinirnya di Darwin, Australia mulai 2012. Kehadiran personil militer ini akan didukung oleh kaal-kapal perang dan berbagai pesawat tempur. Australia tentu saja sebagai sekutu Amerika akan mempersilahkan Washington menjadikan negaranya pijakan ke Asia Tenggara.
Karena Laut China Selatan
Kehadiran Amerika ini bersamaan dengan meningkatknya perhatian terhadap konflik teritorial yang sudah menahun. Konflik paling tajam belakangan ini terjadi di Laut China Selatan dimana negara-negara yang terlibat sengketa beberapa kali terseret dalam bentrokan bersenjata atau saling ancam.
Negara-negara Asia Tenggara yang terlibat batas laut di Laut China Selatan ini adalah Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina dan Thailand. Dan yang paling tajam adalah pertikaian antara Filipina dengan China dan Vietnam dengan China.
Amerika Serikat menilai setelah kemakmuran di Asia mulai meluas kini seperti terdapat kecenderungan untuk mencari dan mempertahankan sumber daya alam yang dimiliki masing-masing. China jelas haus akan energi karena pertumbuhannya setiap tahun menyebabkan ekonominya kepanasan. Pertumbuhan ini membutuhkan dukungan sumber daya alam seperti minyak dan gas. Laut China Selatan ternyata merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam itu.
Selama ini negeri yang konflik dengan China berusaha tidak membuka front terbuka. Mereka malah seperti yang diusulkan Filipina dalam KTT ASEAN mengajak untuk mendukung kehadiran Amerika di Asia Tenggara. Ajakan Filipina ini tidak lain untuk menyelamatkan teritorialnya di Kepulauan Spratly yang sering diklaim China. Dengan kata lain Manila mengundang Big Brother untuk mengimbangi China yang sudah menunjukkan ototnya dengan pemilikan berbagai persenjataan canggih termasuk kapal induk.
Sikap Filipina ini memang yang dekat ke Amerika memberikan nuansa sendiri terhadap percaturan kekuatan di Laut China Selatan. Hikmahanto Juwana dari Universitas Indonesia dalam artikelnya Ketegangan di Laut China Selatan (Kompas, 18/11) menyebutkan bahwa Menlu AS Hillary Clinton telah menunjukkan dukungan kepada posisi Manila. Kedua negara telah menandatangani deklarasi “pendekatan berdasarkan aturan untuk penyelesaian klaim tumpang tindih di wilayah laut.
Kesepakatan ini secara jelas menunjukkan agar konflik teritorial diselesaikan tanpa melalui jalur kekerasan alias jalur diplomasi, sesuatu yang mustahil terselesaikan. Kekuatan militer biasanya akan menjadi penentu dari pemilikan wilayah karena China memiliki postur lebih besar daripada negara tetangganya. Oleh sebab itulah Beijing merasa lebih leluasa mendikte negara tetangganya yang kecil sehingga kehadiran Amerika akan mengganggu interaksinya dengan negara yang terlibat konflik wilayah laut.
Reaksi China
Juru bicara Departemen Luar Negeri China, Liu Weimin dilansir Kompas (18/11), mengatakan ”Sebaiknya AS mempertimbangkan kekuatan-kekuatan regional lain jika mengembangkan hubungan di Asia. Kepentingan negara-negara lain dan kawasan, perdamaian dan stabilitas kawasan harus menjadi pertimbangan AS saat ingin mengembangkan hubungan antarnegara.”
Jika selama ini kehadiran militer Amerika di Okinawa, Jepang serta Pulau Guam tidak menjadi persoalan bagi Beijing, namun kehadiran Marinir tak jauh dari Laut China Selatan dan juga wilayah China menjadi sesuatu yang mengganggu. Setelah perseteruan dengan Taiwan mereda dengan kehadiran pemerintahan pro Beijing dan rejim yang pro rekonsiliasi di Taipei kini Laut China Selatan menjadi titik penting bagi China.
Mayor Jenderal Angkatan Udara AS Michael Keltz seperti dikutip stasiun berita CNN, 16 November 2011 dan dimuat Antara (18/11) mengatakan Presiden Obama tidak hanya menempatkan pasukan Marinir AS di Australia Utara, tetapi juga telah menyiagakan armada pesawat tempur tercanggih F-22 Raptor dan pesawat transport C-17, untuk mengantisipasi gangguan keamanan bagi kepentingan AS di Asia Pasifik.
Menurut The Sydney Morning Herald, Obama dan Gillard bersepakat menggunakan Robertson Barracks, pangkalan Australia yang telah lama ada di Darwin. Pangkalan itu selama ini menampung sekitar 4.500 tentara Australia. Pangkalan tersebut kemungkinan akan diperluas guna menampung para marinir AS, demikian Antara.
Sejauh ini China tidak memiliki sekutu yang bisa ditempatkan pasukannya di Asia Tenggara. Oleh sebab itu kehadiran Amerika Serikat di Darwin akan meningkatkan kehadiran militer China di Laut China Selatan. Dalam beberapa waktu ke depan setelah Marinir Amerika masuk Australia tampaknya Beijing akan mengambil langkah-langkah militer untuk menunjukkan klaim wilayah laut di Laut China Selatan.
Kini sikap Amerika di Asia Timur dan Tenggara bukan sekedar retorika lagi. Selama ini karena disibukkan dengan Perang di Irak dan Afghanistan, Amerika sebagai negara Pasifik tidak begitu tertarik masuk ke konflik kawasan. Namun dengan nilai penting jalur maritim Laut China Selatan serta kandungan minyak dan gas di dalamnya, Washington mulai menunjukkan taringnya dan kepentingannya termasuk untuk sekutunya. (Asep Setiawan)***
Berita merupakan jantung dari bisnis radio berita. Berita bisa berupa berita aktual yang sering disebut hard news atau berita ringan yang dikenal dengan nama soft news. Keduanya merupakan inti dari lembaga pemberitaan berupa radio yang melalui medium audio memberikan informasi kepada pemirsa setiap waktu yang ditentukan. Bisa pemberitaan itu berupa news radio selama 24 jam atau diselingi dengan musik dan program talk shows misalnya.
Banyak editor sepakat bahwa newsgathering atau proses pengumpulan berita merupakan seni bukan ilmu. Ketika berita masuk ke editor maka semuanya akan disusun berdasarkan kepentingannya. Apakah berita yang masuk itu klasifikasi berita utama, berita ringan atau berita biasa saja. Nah disinilah seorang editor dan juga reporter perlu memiliki apa yang disebut “nose” for news kepekaan untuk mencium berita yang penting dan tidak.
Namun demikian terdapat semacam panduan umum bagaimana mengklasifikasikan berita dari yang utama dan tidak. Andrew Boyd misalnya dalam Broadcast Journalism Techniques of Radio and Television News (2001) menyebutkan beberapa unsur untuk sebuah berita yang utama dan biasa.
1. Proximity (kedekatan)
Berita utama adalah berita yang menyangkut kepentingan orang banyak dimana berita itu dikeluarkan.
2. Relevance (Relevan)
Dalam benak editor dan jurnalis meskipun berita itu berada di sekeliling audiens karena sudah dekat namun karena tidak relevan dengan target pemirsa maka tidak akan dimasukkan dalam agenda berita harian atau mingguan.
3.Immediacy (Kekinian)
Kekuatan radio adalah kecepatanya. Daya gunakan dengan memperbarui terus beritanya dan membuatnya selalu baru. Kita memberitakan pemirsa apa yang terjadi sekarang ( MALCOLM SHAW, NEWS EDITOR, INDEPENDENT RADIO
4. Interest (Menarik)
Sebuah berita yang sudah relevan dan dekat dengan pemirsa seharusnya bisa disajikan dengan cara menarik. Disinilah penting penyusun naskah berita untuk menyampaikan berita itu dengan cara yang menarik. Disini penulis naskah harus harus mengetahui apa yang perlu diketahui oleh pemirsa serta apa yang ingin diketahui.
5. Drama
Bagi jurnalis peristiwa yang mengandung drama kehidupan akan senantiasa menjadi perhatian. Mungkin tidak menjadi berita utama namun tetap bernilai berita tinggi.
6. Entertainment (Hiburan)
Berita yang memiliki unsur hiburan tidak selalu berasal dari dunia hiburan dan atau selebriti. Peristiwa yang menghibur bisa jadi terjadi ketika pertandingan olahraga dimana seseorang berlari ke tengah lapangan tanpa busana.
Kritik Ketua Komisi Pemberantasa Korupsi Busyro Mukoddas mengenai gaya hidup hedonisme sebagian anggota DPR patut diterima dengan lapang dada. Ada setidaknya dua anggota DPR asal Golkar pamer mobil Bentley yang harganya tujuh miliar ! Sungguh merupakan pamer kekayaan yang tidak pada tempatnya kalau memang dia mewakili konstituennya. Jika konstituennya sudah semua kaya dan naik mobil mewah mungkin bisa dimaklumi namun kenyataannya banyak pemilih mungkin belum sejahtera seperti mereka.
Jadi di sini yang dikritik tidak hanya gaya pamer mobil dan penampilan tetapi tentu apakah pemikiran mereka sudah cemerlang untuk pembangunan bangsa. Ada masanya anggota wakil rakyat pada era perjuangan memiliki pemikiran cemerlang soal bagaimana menata bangsa ini. Mereka berkutat dengan perdebatan di dalam ruang sidang tetapi pada saat yang sama memiliki pemikiran yang mencerahkan.
Karya pemikiran mereka masih bisa disimak sampa sekarang dalam berbagai artikel dan buku.
Lalu kemanakah pemikiran mereka yang suka tampil mewah dan bergaya pengusaha kaya dibawa-bawa ke DPR. Legislasi banyak masih belum selesai dan kualitas legislasi seperti diperlihatkan dalam UU KPK malah carut marut. Mahkamah Konstitusi sudah memerintahkan dalam dua tahun sejak keputusan UU KPK itu harus diganti karena tidak sesuai dengan Konstitusi. Demikian juga pembentukan pengadilan Tipikor yang di daerah juga merupakan kerancuan dari undang-undang produksi anggota dewan yang terhormat ini.
Saatnya mereka mulai menelurkan karya-karya pemikiran dan intelektual dalam bentuk legislasi yang benar. Tidak hanya ribut soal pemberian dana talangan Century dengan motif politik untuk menjatuhkan eksekutif tetapi seharusnya juga memperlihatkan etika dan daya intelektual yang tinggi untuk terus menata diri.
Memang menjadi anggota DPR ini di satu sisi memberikan kenikmatan jasmani dengan berbagai fasilitas namun di samping itu tuntutan untuk mengikuti berbagai sidang yang sudah ditetapkan dengan pemikiran yang juga sudah disiapkan. Tidak asal hadir saja dan asal duduk. Datang, duduk, tanda tangan, dan mendengarkan. Harus ada kontribusi pemikiran yang jelas.
Jika diperlukan perdebatan soal isu legislasi ini di bawa ke ranah perdebatan intelektual sehingga dengan demikian semakin berkembang alternatif dan solusi untuk perbaikan lebih lanjut. Jangan terkesan produk legislasinya seperti hasil yang tidak maksima. Jika perdebatan dan diskusi yang berlandaskan pemikiran sehat ini berlanjut maka kesan yang akan muncul memang anggota DPR ini sudah menunjukkan kualitas pantas sebagai wakil rakyat di tingkat nasional. ***
Janet Trewin memberikan poin-poin penting bagi presenter baik radio atau televisi. Nasihat ini termuat dalam buku Presenting on TV and Radio: An insider’s guide (2003)
1. Menjadi presenter berarti menjadi
komunikator yang baik sebagai inti dari kemampuan Anda. Pastikan Anda mendapatkan keterampilan ini: komunikator yang mumpuni.
2. Presenter hadir di garis depan dan digunakan sebagai alat marketing. Presenter harus tegas ketika diperlukan bersikap seperti itu.
3. Dengarkan nasihat dari orang lain yang Anda hargai dan percayai.
4. Percaya diri namun tidak keras kepala. Anda tidak dapat bekerja tanpa rasa percaya diri namun tak seorang pun ingin bekerja dengan orang yang tahu segalanya. Oleh karena itu ingat juga keterbatasan Anda.
5. Jadilah anggota tim yang baik. Lebih baik Anda melakukan ini semua semakin tahu betapa Anda tergantung kepada orang lain.
6. Be yourself, jadilah diri Anda sendiri. Metoda sederhananya adalah berfikir mengenai subjek, program, hasil penelitian, audiens – singkatnya pekerjaan yang di tangan Anda, bukan tentang diri Anda.
7. Dapatkan pengalaman dimanapun sekalipun tidak dibayar.
Langkah pertama bagi seorang jurnalis radio adalah memahami kekuatan medum ini dan mengapa sangat potensial. (Paul Chantler and Peter Stewart, 2003). Radio dapat sampai dengan cepat kepada pemirsanya tanpa harus menunggu jeda seperti terjadi dalam televisi. Begitu kejadian maka jurnalis radio sekaligus dapat melaporkan peristiwa dari lokasi kejadian apakah itu peristiwa budaya, sidang di DPR atau bahkan peristiwa kecelakaan dan bencana alam.
Radio dengan cepat dapat memberikan informasi yang lengkap mengenai sebuah peristiwa. Biasanya barulah setelah terdengar melalui audio, pemirsa ingin melihat gambarnya. Di sini televisi akan berperan melanjutkan dan mengembangkan berita yang pertama kali di radio. Meskipun demikian, radio masih tetap penting karena dengan teknologi komunikasi seperti sekarang jurnalis radio berbekal telepon pintar atau telepon satelit bisa memasuki wilayah yang tidak dapat dijangkau media massa lainnya.
Setelah radio menyiarkan audio berupa laporan jurnalis, saksi mata, korban dan pejabat pemerintah termasuk juga pejabat rumah sakit dan dokter maka televisi akan memberikan gambarnya. Dan akhirnya tugas surat kabar pada esok harinya untuk melaporkan secara lebih mendalam dan menganalisa peristiwa yang telah terjadi sebelumnya.
Radio akan berada di depan untuk memberikan atmosfir dan suasana langsung dari lapangan. Suara dan laporan audio inilah yang kemudian akan ditangkap langsung oleh pemirsa berikut emosi dan suasana di lapangan. Berbeda misalnya dengan berita online, meskipun dia ikut memberikan laporan yang cepat dan dari lapangan namun suasana di lapangan atau tempat kejadian harus digambarkan panjang lebar. Radio dalam satu dua menit pertama dapat menyajikan informasi yang pertama kali tanpa harus menunggu waktu.
Dengan radio pemirsa dapat mendapatkan bayangan apa yang sedang terjadi. Misalnya terjadi kereta terguling dari sebuah jembatan di sungai. Pemirsa dapat membayangkan berapa gerbong yang jatuh ke sungai, berapa penumpang di dalamnya, seberapa dalam jurangnya dan seberapa dalam sungai itu. Pemirsa memiliki bayangan terjadi dari suara-suara jeritan, tangisan atau kepanikan di tempat kejadian begitu jurnalis radio sudah datang di lokasi itu.
Satu lagi yang menjadi ciri radio yang sering dikutip adalah media yang akrab secara pribadi. Penyiar dan atau jurnalis radio biasanya berbicara langsung dengan pendengar. Dengan demikian, saat siaran itu itu seorang penyiar seperti berbicara langsung dengan satu orang pemirsa. Begitulah suasana di radio sehingga setiap pendengar merasa akrab dengan pendengarnya.
Radio juga memiliki keunikan tersendiri dimana keberadaannya sering menyampaikan informasi yang bersifat lokal. Radio dengan kata lain sangat dekat dengan pendengarnya terutama di sebuah lokasi. Inilah yang menjadi salah satu kekuatan sebuah radio yang tidak akan terpatahkan oleh medium lainnya seperti televisi atau media cetak. Jagkauan radio yang biasanya bersifat satu kota atau kawasan akan menjadi salah satu pilar penting informasi masyarakat. Walaupun sudah ada radio jaringan atau televisi jaringan dan media online, namun radio yang memiliki karakter lokal masih menjadi kekuatan tak tertandingi.
Belakangan ini nama Freeport disebut-sebut berkaitan dengan konflik antara pegawai dengan manajemen. Ditambah dengan aksi penembakan yang diduga dilakukan kelompok separatis Papua, maka salah satu pulau terbesar di Indonesia ini kembali menjadi perhatian. Mengapa tidak pernah selesai dan ada apa dengan Papua serta terutama Freeport.
Nama Freeport memang terkenal di dalam wacana pemberitaan Indonesia terutama sejak reformasi bergulir lebih dari sepuluh tahun lalu. Freeport identik dengan tembaga, begitu yang diajarkan di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Sekarang Freeport identik dengan emas, salah satu tambang emas terbesar di dunia. Konon dalam penambangan ini, Freeport langsung mengangkut pasir yang berisi emas – belum disaring dan dipisahkan – ke dalam kapal-kapal besar yang langsung diangkut ke negeri Paman Sam. Semuanya seperti terkesan misterius meskipun setiap tahun Freeport mengeluarkan angka-angka hasil penambangannya.
Sebelum berlanjut perlu mengutip satu komentar Harry Tjan Silalahi mengenai pemilikan saham Freeport. Dalam harian Kompas edisi Senin (14/11) Harry Tjan Silalahi kembali mengingatkan bahwa pada saat ini Freeport McMoran menguasai 90,64 persen saham sedangkan pemerintah Indonesia 9,36 persen. Saya bisa melihat sebuah ketimpangan di sini apapun alasannya apakah itu investasi yang besar atau penjagaan keamanan.
Menurut Harry, Kontrak dengan Freeport ditandatangani tahun 1967 menyusul adanya konvensi Geneva bulan November 1967.
Ternyata ulasan mengenai Freeport yang dibuat Harry ini berlanjut dengan tulisan Kwik Kian Gie di Kompas (17/11). Dengan berdasarkan data-data yang disampaikan Kwik inilah saya ingin melanjutkan komentar mengenai Freeport yang selalu menjadi berita hangat setiap tahun. Freeport menjadi sorotan kalangan intelektual dan pejabat namun ironisnya tidak ada satupun kekuatan di Indonesia yang dapat mengubah kontrak karyanya menjadi lebih menguntungkan bagi bangsa Indonesia. Dari sini saja sudah terbukti ketidakseimbangan dalam menikmati harta dari perut bumi Papua.
Baiklah kita lihat apa saja harta yang terpendam di sana yang dibawa oleh Paman Sam. Menurut Kwik royalti untuk Indonesia 1 persen untuk emas dan perak sedangkan 1 sampai 3,5 persen untuk tembaga. Data ini tidak memiliki dasar yang jelas namun hanya berdasarkan rumor saja dari orang dalam. Data ini tampaknya bersifat rahasia.
Namun Kwik kemudian menjelaskan data-data yang dihitung sendiri berdasarkan informasi publik. Menurut Kwik selama 43 tahun Freeport memperoleh 7,3 ton tembaga dan 724,7 juta ton emas. Berdasarkan data ini Kwik paling jago menghitung. Coba kita simak: kalau harga emas sekarang Rp 500 ribu per gram maka setahun nilainya sama dengan 724.700.000 kali Rp 500 ribu sama dengan Rp 362.350 triliun. Kita bisa bayangkan ya Rp 362 ribu triliun. Kwik lalu menghitung berapa pertahunnya maka keluarlah angka yang dibulatkan Rp 8 ribu triliun didapatkan Freeport.
Angka ini masih bisa dielaborasi. Jika satu persen saja Indonesia dapat maka keluarlah angka Rp 80 triliun per tahunnya. Namun seperti dijelaskan Kwik dalam APBN 2011 dalam pos pemasukan SDA Nonmigas hanya Rp 13,8 triliun. Jadi sepertinya pendapatan sebesar itu dari Freeport masih belum jelas kemana masuknya.
Menurut catatan Kwik, secara resmi Freeport menyatakan pada kurun Januari-September 2010 pendapatannya sekitar 4,589 miliar dollar atau hampir Rp 41 triliyun.
Dari analisa Kwik terdapat keanehan karena biaya untuk PT Smelting dan biaya lain totalnya mencapai hampir dua miliar dollar yang setara dengan sekitar 43 persen dari total pendapatan. Mungkin ini angka yang tinggi untuk sebuah usaha pertambangan sehingga semua pendapatan habis untuk operasi perusahaan di lapangan.
Kwik lalu membahas soal penghasilan dari emas. Tahun 2009, katanya Freeport meraup emas 2,033 juta ons. Tahun 2010 turun menjadi 1,185 juta ons, turun hampir separuhnya. Namun tembaga tidak mengalami penurunan drastis karena dari angka 1,138 miliar pon menjadi 913 juta pon.
Analisa Kwik angka ini seperti dipermainkan. Ketika harga emas melambung tinggi malah pendapatan dari emas diturunkan. Apakah ini rekayasa? Inilah yang menjadi pertanyaan banyak orang termasuk Kwi. Apakah ini untuk menutupi keuntungan besar dari hasil penambangan emas ini?
Menurut Kwik memang angka-angka ini bisa diperdebatkan dan bisa memusingkan. Namun intinya adalah bahwa sikap pemerintah Indonesia sudah saatnya maju seperti dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menghendaki adanya negosiasi ulang kontrak dengan Freeport.
Catatan saya adalah renegosiasi ini sulit karena selalu dihembuskan adanya ketidakpastian hukum dan bisnis di Indonesia kalau memang akan ada perundingan baru. Ini dikatakan akan membuat hengkang investor asing yang ada dan enggannya investor asing masuk lagi karena kontraknya bisa diganggu begitu saja. Pendapat ini terlalu berlebihan. Harus dilihat kasus perkasus. Freeport merupakan kontrak yang tidak adil dilihat dari sudut manapun. Setelah 43 tahun tidak ada perubahan besar di Papua yang memberikan kemakmuran. Kasusnya mirip Aceh. Namun Aceh berhadapan dengan Jakarta. Setelah terjadi perdamaian maka APBD Aceh konon naik menjadi sekitar satu triliun per tahun.
Jika memang tambang emas ini mau dibiarkan abis dikuras Freeport dan dikembalikan setelah habis maka betapa malangnya bangsa Indonesia. Ketika founding fathers begitu beraninya sampai keluar masuk penjara penjajah namun mengapa sekarang betapa sulitnya meminta kembali hak Indonesia yang menjadi pemilik dari tanah dan airnya. Logikanya sekarang dibalik saja, jika di Amerika ada perusahaan Cina atau Rusia yang menambang dengan pembagian royalit kecil bagi Amerika, saya yakin tidak akan dibiarkan begitu saja. Dengan segala cara, termasuk aturan yang sangat nasionalis mereka akan diusir perlahan-lahan atau dikurangi keuntungannya bagi asing. Mengapa Jakarta tidak segera membuat rencana untuk menagih haknya setelah merdeka lebih dari 60 tahun? ***