asep on March 9th, 2010

Inilah salah satu konsekuensi jika reformasi lebih dari 10 tahun tidak dibarengi dengan perbaikan sumber daya manusia khususnya di kalangan pemerintah. Para pejabat menengah setingkat dirjen, sekjen atau irjen masihlah “orang lama” dengan wajah baru. Mereka seperti nafas reformasi tetapi jiwanya masih “orde korupsi”

Artinya mentalitas mereka masih menganggap bahwa uang dan fasilitas negara merupakan keniscayaan karena mereka memiliki jabatan itu. Jabatan yang kadang dicapai dengan susah payah, dengan berkeringat dan tidak jarang dengan tabrakan dengan kepentingan teman sejawat. Mentalitas mereka mungkin akan hilang setelah setengah abad dimana secara alamiah sudah pensiun.

Mengapa korupsi itu selalu terkait dengan pejabat? Karena kebanyakan anggaran pembangunan di negara berkembang seperti Indonesia berasal dari pemerintah. Anggaran inilah yang dialokasikan untuk membeli dan memperluas jasa sebuah institusi. Sudah sering terdengar bahkan di departemen sosial untuk pembelian mesjin jahit untuk keperluan bantuan pun dikutip. Di Departemen Agama yang sudah seharusnya lebih religius terbukti pejabatnya dari tingkat menteri terjerat kasus korupsi karena ketidaktahuan atau pura-pura tidak tahu. Semuanya melempar tanggungjawab. Bagaimana ini bisa terjadi setelah satu dekade reformasi dan keterbukaan.

Sungguh menyedihkan dan sekaligus lecutan ketika “Political & Economic Risk Consultancy” (PERC) yang berbasis di Hong Kong mengumumkan bahwa Indonesia mencetak nilai 9,07 dari angka 10 sebagai negara paling korup yang disurvei pada 2010. Nilai tersebut naik dari tahun lalu yang poinnya 7,69.

Sedangkan, posisi kedua ditempati oleh Kamboja sebagai negara paling korup. Kemudian diikuti oleh Vietnam, Filipina, Thailand, India, China, Taiwan, Korea, Macau, Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, Hong Kong, dan Australia. Mereka semua termasuk negara paling korup dalam survei, selain Singapura.

Responden survei berjumlah 2,174 dari berbagai kalangan eksekutif kelas menengah dan atas di Asia, Australia, dan Amerika Serikat.

Tampaknya ini membuktikan bahwa upaya pemerintah reformis tidak menghasilkan pegawai dan pejabat bebas korupsi. Semua masih berlomba menggali lubang di anggaran masing-masing untuk keuntungan jangka pendek.

Ancaman hukum dengan adanya Komisi Pemberantasan Korupsi belum membuat jera para koruptor. Mereka masih terang-terangan bertindak di tengah masyarakat. Dengan gaji yang sudah ditentukan negara mereka bisa hidup bergelimang kemewahan. Oleh sebab itu para pejabat dan pegawai negeri yang benar-benar bersih sering menjadi korban mereka. Para pejabat yang berdedikasi ini harus mengurut dada karena rekan sejawatnya menghancurkan negeri ini dengan korupsi.

Jika hukuman dunia bisa membuat jera koruptor, agaknya itulah yang harus ditempuh. Hukuman mati memang mengenaskan dan mengerikan namun jika negeri ini begini saja akan hancur tanpa jejak digerus oleh kemajuan peradaban.

Selain hukuman fisik, hukuman sosial mungkin lebih kuat sehingga mereka yang terindikasi dan terbukti korupsi bisa dikucilkan oleh masyarakat. Memang menyakitkan tetapi jika tidak demikian akan hancurlah negeri ini dalam beberapa dasa warsa lagi.

Sebenarnya dengan keberadaan nilai religius yang mengakar di Indonesia, agama-agama besar seharusnya berperan besar. Hidup bersih, hidup shaleh, jauh dari pada barang haram merupakan moto yang seharunya menjadi bagian hidup, bukan kemewahan dan menunjukkan harta. Sumber inspirasi dari agama inilah yang akan menjadi lembaga-lembaga penting Indonesia ini bersih.

Dalam Islam terdapat istilah Ihsan. Istilah ini merujuk kepada pengawasan Allah yang terus menerus sehingga kalaupun kita tidak melihatNya sesungguhnya Allah memperhatikan kita setiap saat.

Kesadaran Ihsan inilah yang akan menjadi penjaga sehingga calon koruptor akan malu di hadapan Tuhan jika dia mengambil barang yang bukan haknya. Wallahu’alambishawab.

Reblog this post [with Zemanta]

Tags: , , , , ,

asep on March 5th, 2010

Badan Antariksa Amerika Serikat Nasa baru-baru ini meluncurkan gambar bumi terbaru yang dikatakan dalam laporan BBC tetap lestari warnanya dibanding foto-foto sebelumnya. Subhanallah ternyata bumi itu indah dan menakjubkan dipandang dari angkasa luar.

Pemandangan menakjubkan ini bumi dengan segala keindahannya seperti melayang di jagat raya. Bagi kaum beragama tempat menggali inspirasi spiritual untuk mengagungkan ke Maha Besar Nya, Allah Swt.

asep on March 4th, 2010

Sekarang ikon avatar sudah menjadi kemestian. Kemanapun kita berkunjung di social media websites akan bertemu dengan avatar. Apakah kita membuat blog, mengunjungi blog atau forum atau berkelana di alam maya, identitas berupa avatar menjadi sebuah kemestian, untuk tidak dikatakan keharusan.

Maka saat berkunjung ke situs-situs yang menyediakan avatar, sungguh luar biasa seni membuat avatar sudah berkembang sangat pesat. Kita bisa melihat ribuan bahkan puluhan ribua pilihan avatar yang kita kehendaki.

Pilihannya sangat besar mulai dari avatar yang bertemakan alam sampai dengan kartun dan tokoh. Penyajian yang lucu sampai yang serius dan abstrak akan kita dapatkan di beberapa situs Avatar ini.

Apapun hobi kita dalam menggali avatar ini kita bisa peroleh. Mau karakter selebriti atau mau ilmuwan dan bintang kartun semuanya tersedia.

Silahkan kunjungi misalnya

http://www.avatarist.com/
http://gdpit.com/avatars_pictures/

asep on March 3rd, 2010

Karena beberapa hal, para pengunjung mungkin kecewa melihat lambatnya pekembangan blog ini karena editor lebih fokus ke journalist-adventure.com.

Baiklah melanjutkan soal tips masuk dunia jurnalistik yang diposting 23 Juli 2006, kita lanjutkan lagi perbincangan soal kiat masuk dunia jurnalistik.

Setelah dalam posting sebelumnya Tips masuk dunia jurnalistik (1) dibahas soal minat yang menggebu dengan mulai belajar menulis dan menulis kemudian Tips kedua menulsikan program menjadi jurnalis, maka sekarang akan diulas soal kebiasaan menulis dengan perspektif.

Apa kebiasaan menulis dengan perspektif? Menulis dalam dunia jurnalistik harus memiliki angle, memiliki sudut pandang dan memiliki tekanan. Dunia jurnalistik adalah dunia yang serba cepat berkembang sehingga sangat penting bagi mereka yang memiliki minat terjun ke dunia ini kemampuannya menulisnya serba cepat. Cepat tetapi tentu akurat. Soal akurasi ini kita akan kaji dalam pertemuan lainnya.

Yang disebut menulis dengan perspektif ini adalah menuangkan gagasan dengan satu sudut pandang yang dianggap kuat dan menonjol saat itu. Menliskan laporan dengan sudut pandang sangat penting untuk membuat jiwa dalam tulisan sesuai dengan kebijakan editorial sebuah media. Untuk sampai ke arah sana latihlah tulisan yang memiliki perspekif yang memiliki sudut pandang.

Media massa melaporkan peristiwa dengan tekanan dan sudut pandang tertentu. Dalam bahasa media massa adalah angle (sudut pandang). Angle inilah yang kemudian menggulirkan laporan dari hari ke hari, dari minggu ke minggu dan dari bulan ke bulan. Editorial media itu sendiri nanti yang akan menguakan sudut pandang dan membedakan angle satu media dengan media lainnya. Angle inilah yang akan jadi ruh sebuah media sehingga pemirsa atau pembaca akan merasakan sudut pandang media itu.

Nah untuk belajar menuliskan sudut pandang ini, kita ambil contoh musibah longsor di Ciwidey baru-baru ini. Langkah pertama tentu menulis soal peristiwanya sendiri, berapa korban dan berapa yang hilang. Mengapa korban? Sebab berita adalah menyangkut manusia. Musibah dan bencana adalah drama manusia. Drama tentang kesedihan dan kegembiraan luput dari bencana. Oleh sebab itulah maka tuliskan dalam latihan ini angle korban sebagai sudut pandang.

Misalnya: Sedikitnya 20 orang meninggal akibat tanah longsor di Ciwidey, Bandung.

Dari satu kalimat itu dapat berkembang banyak hal yang bisa mengungkap tentang korban ini termasuk jumlah orang yang hilang. Dalam latihan sebelum kita benar-benar menjadi seorang jurnalis, menuliskan peristiwa yang kita lihat dan dengar akan sangat bermanfaat membiasakan diri menulis dalam konteks pemberitaan, pelaporan. Tentu saja latihan sebelum benar-benar menjadi jurnalis ini kita biasakan untuk semua peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, bahkan kalau bisa yang lebih dekat dengan keberadaan penulis sehingga lebih berkesan dan mendalam.

Mengapa yang dekat? Karena prinsip proximity (kedekatan) merupakan satu hal penting dalam dunia jurnal (harian) dimana mereka yang terdekat akan sangat ingin tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Naluri manusia berupa rasa penasaran dan ingin tahu inilah yang akan menjadi penting dalam dunia jurnalistik dan mengapa dunia jurnalistik akan tetap hidup. Sepanjang manusia memiliki insting ingin tahu maka dengan sendirinya akan terdorong untuk membaca, mendengar dan melihat dengan panca inderanya segala apa yang terjadi di dekatnya.

Bagi manusia rasa ingin tahu ini juga merupakan bekal untuk mengantisipasi apa yang menimpa mereka. Setidaknya juga menjadi bekal informasi mankala ada keluarga dekat dan jauh terkena bencana sehingga bisa segera menolong atau memberikan perhatian. Oleh seba itulah maka penting bagi mereka yang berkeinginan terjun ke dunia jurnalistik melaporkan sesuatu dengan cepat dan akurat peristiwa yang paling banyak mempengaruhi manusia.

Jika langkah pertama menulis mengenai peristiwa bencana tadi dimulai dengan angle siapa yang jadi korban dan berapa jumlahnya, maka pada hari berikutnya seorang jurnalis akan melangkah kepada langkah penyelamatan mereka yang masih tertimbun – jika memang ada – atau upaya yang dilakukan tim SAR untuk menyelamatkan korban.

Sumber: Freejournalist

Tags:

asep on March 2nd, 2010
Student Radio Journalist
Image by Bill D’Agostino via Flickr

Ada sebuah nasihat dari seorang pakar marketing dan karir. Kebanyakan orang untuk mengambil sebuah karir adalah tidak mengambil keputusan. Orang ragu-ragu apakah karir yang akan dimasuki memiliki masa depan baik? Atau cocokkah dengan karakter saya ? Apakah saya mampu ? Saya tidak punya keahlian di bidang ini sebelumnya ? Saya tidak punya pengalaman menulis ?

Sang pakar ini memberi nasihat. Putuskanlah terlebih dahulu. Buatlah keputusan. Pilihlah jalan hidup Anda! Demikian apa yang disarankannya. Diterima atau tidak, kadang-kadang kita tidak memutuskan terlebih dahulu mau kemana.

Jika Anda memutuskan masuk dunia jurnalistik apakah sebagai wartawan bidang media cetak atau elektronik, segera ambil. Jangan menunggu sampai habis waktu kita. Bertanyalah mengenai prospek di bidang ini kepada sahabat, rekan atau orang yang bisa diminta pertimbangkan.

Setelah mengambi keputusan, tuliskanlah. Tuliskan keputusan itu diatas sehelai kertas atau di sebuah file atau di sebuah blog. Tuliskan dengan rinci tujuan Anda dalam karir itu. Tidak menuliskan secara eksplisit untuk keperluan Anda sendiri, maka keputusan itu tidak lain adalah harapan kosong.

Jika kita memutuskan sesuatu kemudian menuliskannya, maka energi akan menyatu antara harapan dan kenyataan. Antara apa yang dipikirkan dengan apa yang akan terjadi. Tangan dan pikiran serta seluruh energi dalam tubuh Anda tersalur kedalam tulisan itu. Keputusan tidak akan jadi harapan kosong. Keputusan itu telah menjadi energi.

Langkah selanjutnya akan mengikuti keputusan yang ditulis itu. Langkah-langkah berikutnya akan beranjak dari keputusan yang telah ditulis. Tidak percaya ? Coba tuliskan, apa yang Anda kehendaki dengan masuk dunia jurnalistik. Lalu apa langkah-langkah berikutnya. Tanpa ada rincian, sekali lagi keputusan itu tinggal angan-angan Anda.

Sumber: Freejournalist

Reblog this post [with Zemanta]

Tags: ,

asep on March 2nd, 2010

dprKalau meminjam almarhum Gus Dur, anggota DPR itu seperti anak-anak TK. Ribut melulu dan kadang bersitegang.

Ungkapan Gus Dur berulang ketika Ketua DPR Marzuki Alie menutup sidang Paripurna DPR untuk dilanjutkan hari Rabu membahas rekomendasi Pansus Century. Keributan itu hampir melahirkan baku hantam kalau tidak dilerai oleh sejumlah orang. Ketika putusan itu dibuat sejumlah orang sudah protes dan mengambil microphone untuk menyatakan agar Ketua diturunkan.

Sikap sejumlah anggota DPR itu menunjukkan tidak matangnya perilaku kenegaraan mereka. Sikap emosional, ingin menang saja tanpa memperlihatkan etika muncul kembali. Ini juga menunjukkan betapa para politisi DPR ini tidak bertindak elegan, jauh dari sikap yang beretika.

Lalu apa yang mereka kehendaki semuanya? Bukankah kepentingan rakyat dimana harga-harga sembako, pengadaan perumahan dan bahaya bencana alam seharusnya yang menjadi fokus kerja mereka? Semuanya mengurus Century sehingga energi mereka habis hanya untuk bersitegang soal-soal yang sebenarnya bisa diputuskan dengan cepat.

Masih ada satu hari lagi sidang Paripurna DPR dan masih ada kesempatan memperlihatkan etika dan ahlak yang lebih baik. Memang perbedaan pendapat seperti di DPR sering membuat panas kepala namun jangan sampai terjadi perang mulut dan fisik yang tak berkesudahan.

Jika satu kubu menginginkan agar ada yang dijatuhkan karena Pansus Century ini, sudah menjadi bagian dari demokrasi lakungan voting. Jika voting kalah masih bisa dilakukan lobi atau upaya pendekatan lainya kepada masyarakat. Tidak dengan ngotot di ruang sidang.

Tags:

asep on February 28th, 2010
journalist interviewing people
Image by Kewei SHANG via Flickr

Banyak pertanyaan seputar bagaimana memasuki dunia jurnalistik ketika sebuah lowongan dipasang. Bagaimana caranya ? Mengapa saya gagal ? Saya baru lulus bisakah masuk ke dunia jurnalistik. Lalu mau melamar bagaimana caranya ?

Pertanyaan serupa pernah muncul dalam benak saya sebelum memasuki dunia jurnalistik.

Salah satu tip untuk memasuki dunia jurnalistik adalah kesiapan dari dalam diri kita ? Apakah kita benar senang melihat bagaimana kesibukan para wartawan, presenter televisi atau radio dan berbagai tokoh jurnalistik berbicara soal media ? Jika ya, maka teruskan pada tahap berikutnya.

Mengapa minat menggebu ini penting ? Karena dengan modal inilah semua kesulitan bisa diselesaikan. Minat yang tinggi dinggal digabung dengan skills, misalnya membuat cv dan wawancara.

Jika minat sudah ada, maka mulailah bertindak menuju dunia jurnalistik dengan banyak menulis, banyak membuat analisa dan membuat opini di media massa di kota Anda. Identifikasi minat Anda. Bila bermimat di dunia sastra, mulailah dengan menulis puisi, prosa atau cerpen. Mulailah sekarang juga apalagi bagi yang akan lulus. Tulisan Anda di sebuah media daerah atau bahkan media nasional akan memperkuat bobot Anda dibandingkan dengan rekan lainnya ketika sama-sama mengajukan lamaran ke sebuah perusahaan.

Jika tidak bisa dimuat, saran Mochtar Lubis, buatlah tulisan setiap hari – sekali lagi setiap hari – di buku harian Anda. Membiasakan memberi komentar dan deskripsi akan memberikan kekuatan dan modal penting dalam liputan di masa datang. Saran Mochtar Lubis – tokoh sastra ini – sangatlah berarti karena begitu Anda memang tuts komputer atau pena, kadang-kadang Anda tidak berani mengungkapkan perasaan, opini atau argumentasi. Anda menjadi pemalu.

Nah bagaimana Anda bisa pemalu menulis komentar tentang peristiwa di sekitar Anda mulai dari kasus korupsi, banjur, got mampet, kemarau panjang dan angkot yang tidak disiplin, kalau bisa berbicara dan berdebat dengan rekan Anda tentang suatu masalah yang lagi hot. Kebiasaan menulis buku harian – tidak selalu tentang romantisme Anda – mengenai topik sosial, nasional dan internasional akan membuat Anda terbiasa dan terbuka dalam mengajuka pendapat. Anda juga bisa terbiasa menuliskan secara runtut dan logis.

Bila sudah selesai, kaji dan baca kembali. Siapa tahu memang dari situ kelihatan bakat Anda dalam penulisan. Tidak selalu tentu tulisan pertama akan menjadi karya yang terpuji, tetapi Anda telah mengawali langkah untuk memasuki karir di dunia jurnalistik.

Sekali lagi mulailah menulis. Tulis apa saja, beri komentar apa saja. Lalu perlahan-lahan buatlah ulasan terhadap peristiwa yang menarik minat Anda. Keluarkanlah seluruh pengetahuan dan daya analisa Anda, niscaya ini akan menuntun ke dunia lebih luas dalam tahap awal dunia jurnalistik.

Jangan menyerah jika selama satu hari, Anda tidak menulis apapun karena merasa buntu pikiran. Saat kesulitan seperti itulah yang menentukan apakah Anda menyerah atau terus maju.

Sumber: Freejournalist

Reblog this post [with Zemanta]
asep on February 28th, 2010
Night London Panorama with Full Moon
Image by Dimitry B via Flickr

Dalam upaya mengintegrasikan sejumlah artikel agar tidak berserakan selama tahun 2010 ini akan disisipkan dalam blog ini. Tujuannya adalah agar memudahkan dalam menulis kembali dan memperkaya beberapa bagian artikel yang akan dikembangkan kedalam manuskrip. Sebenarnya sudah ada vesi offlinenya tetapi agar lebih bisa dipahami pembaca maka saya integrasikan kedalam situs ini.

Mohon maaf kepada para pengungjung apabila dirasa semakin memberatkan karena banyaknya topik yang mungkin tidak relevan dengan keinginan pengunjung.

Blog yang akan dimasukan artikelnya adalah Journalis-Adventure, The Global Politics dan Beasiswa Inggris.

Selain untuk menambah masukan, artikel tersebut tetap akan dipisah agar para pengunjung yang memang spesialiasi jurnalistik, hubungan internasional dan pencarian bea siswa masih tetap fokus.

Namun demikian tentu saja ulasan tentang peristiwa menarik dan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi akan selalu menyertai Anda.

Ada saran ? Silahkan….

Reblog this post [with Zemanta]

Tags: , ,