Feb 18 2007
Eleven Minutes by Paulo Coelho
Kali ini penulis kaliber dunia Paulo Coelho menyentuh kisah tabu dalam kehidupan manusia. Dunia prostitusi dengan setting Eropa. Sentuhan mengenai kisah Maria yang terbawa penipuan ke Swiss, negeri jam menjadikan jiwanya tegar.
Saya tidak yakin kalau buku bisa diterjemahkan ke Indonesia seutuhnya. Banyak istilah dan adegan yang seronok, kata orang Malaysia.
Maria yang bercita-cita tinggi dan patah hati dalam cinta pertama terbujuk penipu yang pura-pura menawarkan kerja di Swiss.
Patah hati lalu berusaha mencari cinta di tempat jauh. Namun terperosok kedalam prostitusi. Yang menarik, Paulo Coelho merangkaikannya dengan perjuangan Maria menghadapi pelanggan dengan menambah ilmu ke perpustakaan.
Akhirnya malah dia bisa lebih luas pengetahuannya untuk membantu memecahkan masalah pelanggannya yang kemudian rata-rata eksekutif. Sampai akhirnya dia bertemu dengan pelukis terkenal yang dicuekinnya namun ternyata diam-diam dia mencintainya.
Yang menarik dari novel ini adalah catatan harian Maria yang mengungkapkan keresahan jiwa dan pertanyaan-pertanyaan mengenai cinta dan kehidupan.
Freedom only exists when love is present.
Ungkapan ini menggambarkan bagaimana antara cinta dan kebebasan itu saling terkait. Bahkan Maria juga menulis “the person who loves wholeheartedly feels free”.
Pengalaman cinta Maria yang ditulis Paulo Coelho kembali menyentuh aspek spiritual yang indah, barangkali bisa dipahami kalangan sufi.
Simak: The true experience of freedom : having the most important thing in the world without owning it. Sungguh jalinan kata yang dahsyat nilainya. Saya teringat bagaimana pengalaman mistik kalangan sufistik yang menyatakan dunia ini tidak memasuki hatinya tetapi digenggam. Dunia jangan sampai menenggelamkan dirinya tetapi dia tetapi hidup dalam dunia yang modern.
Paulo pandai memilih ungkapan yang mendalam melalui buku harian Maria ini. Pergulatan batin mengenai cinta dan dinamika kehidupan seperti dalam novel akbarnya The Alchemist juga muncul di sini.
Mengenai dunia dan segala suka dukanya, Maria menulis : I can choose either to be victim of the world or an adventurer in search of treasure. Its all a question of how I viewing life.
Novel Eleven Minutes (yang kata Paulo ini berasal dari pengalaman prostitusi bahwa dari berjam-jam pekerjaannya hanya 11 menit itu saja “pekerjaan” sesungguhnya) menghadirkan pandangan-pandangan filosofis sehabis Maria bergulat dengan manusia.
Sampai akhir buku, Paulo senantiasa menghadirkan kejutan. Bahkan dalam halaman khusus yang digambarkan sebagai buku harian Maria, ada adegan-adegan erotis yang saya sangsi bisa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.
Namun kembali Paulo tidak kehilangan esensi perbincangan jati diri seorang Maria, sampai suatu saat sang Maria ini menulis : When I had nothing to lose, I had everything. Ungkapan mengenai betapa luasnya pandangan Coelho, tentu untuk seorang Maria yang berpendidikan rendah dan terlibat dalam prostitusi terlalu tinggi dan sakral.
Bagus bgt reviewnya,
sayang q blom punya…
klo ma the unberable lightness of being Milan Kundera bagusan mana??
jd tertarik ni tuk meluncur di http://www.khatulistiwa.net kata tmnq dpt diskon.. ngirit dikit ga pa2 kan…hehe..
Menarik sekali ulasannya.
Sekedar info, buku-buku karya Paulo Coelho dapat didapatkan di http://fiksi.co.nr
trims.
Terima kasih, banyak sebenarnya keinginan mengulas buku pujangga dari Brasil ini. Bahkan saya berkeinginan mewawancarainya, tapi belum kesampaian.