Sep 29 2008
A New Chapter after Ramadhan
Sudah menjadi Sunatullah ada awal maka ada akhir. Usia kita terus bertambah dengan berakhirnya Ramadhan ini. Bulan suci dan penuh berkah ini patut kita catat sebagai sebuah momentum pencarian jati diri, pembersihan ruhani dan pembaharuan spiritual untuk 12 bulan mendatang.
Setelah menyelami samudra Al Quran yang penuh hikmah saatnya meninggalkan dengan sedih Ramadhan mubarak ini.
Apa yang kita bisa catat dalam babak baru setelah Ramadhan ini ?
1. Sebagai seorang insan penduduk bumi maka kita diciptakan dengan missions yang jelas beribadah mengabdi dan menumpahkan seluruh potensi untuk “pleased of Allah”. Mengapa sentral pembicaraan manusia ini selalu bertumpu kepada Al Khaliq ? Karena tidak lain kembali kita juga kepadanya. Siapa saja yang menolakkehadiran-Nya yang merendahkan ke Agungan-Nya, maka akan kembali dengan sia-sia. Misi untuk mencapai kesempurnaan hidup seara paripurna jelas tidak bisa dicapai dengan uang semata-mata, tidak pula dengan kekayaan dan jabatan. Ini adalah penjelajahan batin yang berujung dengan kebahagiaan totalitas yang tidak bisa diukur dengan baju baru atau mobil baru. Inilah babak baru untuk memulai lagi sebuah episode yang bersih dan suci.
2. Training ground selama sebulan dengan menahan segala yang membatalkan puasa secara umum dan khusus tidak lain adalah sebuah ajang pelatihan jasmani dan ruhani. Sebuah perjalanan yang paripurna untuk memantapkan fisik dan ruhani dalam mengarungi jalan menuju-Nya. Ini mengukuhkan bahwa tidak semata-mata fisik saja yang diperlukan dalam mencapai tangga kebersihan dan kesempurnaan tetapi juga dilengkapi dengan kesiapan ruhani. Kebutuhan dan kesiapan ruhani dan jasmani merupakan satu kesatuan.
3. Penggemblengan jasmani dan ruhani disertai juga dengan pemantapan fikrah. Pendalaman dan pengkajian serta tilawah Al Quran merupakan sebuah oase perenungan yang lengkap untuk menatap kehidupan mikro kosmos dan makro kosmos secara lebih komprehensif. Fikrah yang dicelup dengan pedoman dari Al Khalik ini melengkapi keseluruhan dari kehidupan itu sendiri. Dia tidak memilah milah mana individu masyarakat, tidak memilah mana ukhwari dan mana duniawi, fikrah ini menyatukan dunia maya dan dunia nyata. Inilah metode untuk menggenapkan fikrah kita yang diracuni dengan pandangan yang tidak sesuai dengan keinginan Al Khaliq.
4. Dalam babak baru nanti, dimensi sosial dari perjalanan ruhani ternyata tidak terpisahkan. Seseorang yang telah menempuh perjalanan ruhani dalam alam kosmos ini akan kembali kepada jati dirinya dalam masyarakat. Sebuah langkah dengan zakat fitrah ini merupakan simbol mendalam betapa diri ini tidak lepas dari kehidupan sosial dan betapa kurangnya kelengkapan itu jika tidak menyertakan kegiatan sosial dalam kehidupan kita.
Wallahu’alam bissawab
Mas, selamat berLebaran ya…maaf lahir batin…