Mengapa begitu banyak orang berharap kepada Barack Hussein Obama? Tidak hanya di Indonesia – tempat bersekolah dia selama empat tahunan SDN 01 Menteng – tetapi bahkan di seluruh dunia. Eforia yang disiarkan ke seluruh dunia pada saat pelantikan menunjukkan betapa Obama menjadi tumpuan.
Di Amerika Serikat, barangkali kebosanan terhadap Mr Bush sudah sampai ke ubun-ubun karena bangsa Amerika ratingnya di seluruh dunia makin melorot, makin tidak disukai untuk tidak dikatakan makin dibenci. Semuanya karena ulah Bush di Irak dan Afghanistan, membiarkan pembantaian di Gaza merupakan episode kegilaan yang ingin segera diakhiri.
Kalangan intelektual di Amerika juga tidak menyukai presiden-nya karena katanya tidak mewakili aspirasi Amerika. Kemenangan Bush yang kontroversial atas Al Gore, disusul dengan tragedi 11 September 2001 yang melahirkan banyak skandal selama pemerintahan Bush. Irak adalah warisan terburuk dan krisis finansial Amerika beban yang menyesakkan untuk rakyat Amerika.
Maka Obama menjadi harapan. Obama dianggap representasi orang yang memiliki latar belakang minoritas. Dia berkulit hitam meski ibunya berkulit putih. Obama juga pernah mengenyam masa kecil di Jakarta, ibu kota negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia. Pengalaman hidupnya banyak memberikan pelajaran akan multikulturalisme, bukan dominasi kulit putih.
Selain latar belakang kultural Obama, juga pergaulan dan karir intelektualnya. Sebagai orang berkulit hitam cerdas yang sempat mengecam Harvard, Obama memulai karir sebagai pengacara orang-orang kecil. Dia bukan turunan orang kaya maka menggali karir dari bawah sekali. Ini berbeda dengan Bush yang dari sono nya memang orang kaya bahkan superkaya dengan minyaknya.
Kalau kita menyimak pemikiran Obama dalam bukunya Audacity of Hope, maka tercermin kedalaman dan keluasan dia dalam melihat diri dan bangsanya serta bangsa-bangsa di dunia.
Dengan euforia keluar dari sesaknya keberadaan Bush, warisan ekonomi yang goyah, kehadiran Obama seperti sebuah sinar terang di akhir terowongan yang gelap. Warga dunia kini menanti, semoga keajaiban Obama tetap bisa memberikan nafas segar dalam kemanusiaan, bukan oleh politik sempit kaum radikal di Amerika.
Tags: barack obama


