Sudah menjadi rahasia umum jika masuk bulan Ramadhan ada alasan untuk mengatakan badan sedang lemes, sedang puasa jadi kerjaan berkurang. Berbagai alasan ini merupakan “pelarian” dari pekerjaan rutin. Bahkan sebagian sekolah ada yang mengurangi jam belajar, maklum siswa mungkin tidak kuat menelan pelajaran yang berat atau olahraga tidak diperlukan lagi.
Namun demikian di sisi lain bisa juga orang berpuasa meningkatkan produktivitasnya. Apa itu? Sudah menjadi mafhum bahwa setiap orang yang berpuasa bertumpuk dengan dosa. Dalam alam modern ini, dosa sepertinya menjemput mulai terbangun tidur sampai dengan tidur lagi. Baik itu dosa mata, telinga, mulut dan dosa-dosa lebih besar lagi berkaitan dengan hubungan antar manusia.
Kalau penumpulan dosa ini dibiarkan maka kita akan tenggelam dalam kubangan yang tidak akan pernah bangkit lagi.
Nah saatnya menjadi produktif menghasilkan pahala. Salah berkah Ramadhan ini semua pahala dilipatgandakan, semua pahala dipertinggi nilainya. Sebagai misal, shalat lima waktu dijadikan nilainya berlipat ganda. Shalat sunnah dijadikan nilai sebagai pelaksanaan shalat fardhu. Itu baru dari kewajiban lima waktu belum yang lainnya.
Memberi makan orang berbuka, juga luar biasa fadhilahnya. Menyantuni anak yatim lebih luar biasa lagi.
Tadarus Al Quran sampai khatam merupakan tambang emas pahala yang tidak akan ada habisnya.
Jadi mengapa produktivitas pahala ini dihentikan? Saatnya panen pahala ini diefektifkan sehingga amaliah malam bernilai 1000 bulan pun jangan sampai diabaikan.



