Metromini

Hampir setiap hari dalam perjalanan ke kantor tak lepas dari metromini. Minibus dengan warna oranye dan hijau berseliweran di Jalan Thamrin dan Sudirman. Merekalah yang menjadi tulang punggung transportasi di Jakarta.

Cuma ada cumanya. Saya tidak habis pikir bagaimana sejak hampir dua dasa warsa lalu nyaris  tidak ada perubahan. Tidak nyaman, polusi, panas dan luar biasa hebohnya kalau ngebut. Bahkan dalam jarak ratusan meter pun ngebut – mungkin karena alasan ngejar setoran – sudah menjadi kebiasaan.

Yang juga saya perhatikan selain sangat tidak nyaman, posisi sopir di sebelah kanan dekat mesin yang panass luar biasa, tidak diperhatikan organda atau pemerintah. Rasanya tidak manusiawi seharian mereka berada di panasnya Jakarta tanpa ada perlindungan. Sudah merokok pula yang membuat polisi, mereka pun harus menerima kenyataan seperti itu mungkin selamanya, tidak ada perbaikan dalam kehidupan mereka.

Saya kira mungkin penguasa Jakarta harus memikirkan pula apakah mungkin Metromini AC seperti halnya bus AC atau KRL AC. Dengan demikian selain manusiawi bagi para penumpang apalagi dengan jalur Pasar MingguTanah Abang yang luar biasa macetnya, sudah saatnya penumpang mendapat sedikit rasa nyaman di jalan selama berjam-jam. Ditambah lagi sopir mungkin lebih nyaman sedikit daripada dikipas hawa panas seumur hidupnya.

Reblog this post [with Zemanta]

One Comment to “Sopir Metromini”

  1. ikram says:

    Posisi roda kemudi juga tidak persis di depan kursi supir, tapi agak ke kiri sedikit. Kasihan mereka, bekerja dan sekaligus menyakiti tulang punggung :)

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>