Pengalaman meliput pemilu di Malaysia, Inggris dan Indonesia memberikan ilham untuk menulis beberapa catatan mengenai pendekatan jurnalistik dalam pemilihan umum.
Pemilihan umum merupakan pesta demokrasi yang melibatkan masyarakat sampai ke bawah. Bagi negara yang sedang tumbuh demokrasi, pemilu merupakan kemewahan. Mengapa disebut kemewahan karena negara berkembang yang biasanya memiliki militer kuat perannya cenderung merendahkan pentingnya demokrasi untuk stabilitas.
Contoh jelas kasus ini adalah Birma. Saat berkunjung kesana, Birma mengikuti pola Indonesia Orde Baru dimana rejim militer membentuk partai politik mirip Golkar. Pola ini kelihatannya gagal di Birma.
Bagi negara maju seperti Inggris, pemilu merupakan sebuah kemewahan bagi masyarakat yang sadar akan pentingnya parlemen dan pentingnya mencoblos. Di negara maju semakin sedikit partisipasi dalam pemilu karena dianggap negara sudah stabil dan kalangan profesionallah yang mengendalikan semua negara ini, tidak hanya politisi.
Bagi Indonesia dimana pemilu diadakan hampir setiap bulan mulai dari walikota, bupati, gubernur, presiden dan bahkan anggota DPR, maka perlu sebuah pendekatan yang kuat dalam diri jurnalis.
Pertama, jurnalis menempatkan diri bukan sebagai peramal dalam pemilu tetapi menjelaskan peta persoalan yang dihadapi negara dalam kerangka lebih luas. Memetakan persoalan akan memberikan kejelasan mengenai mengapa pemilu ini penting dan mengapa hasilnya sangat menentukan. Ketika kita terlena dengan jargon dan kampanye, kadang-kadang liputan pemilu kehilangan fokus. Saya teringat ketika pemilu Malaysia 1995 maka isunya adalah bangkitnya kepemimpinan baru Anwar menjelang peralihan dari Mahathir. Masalah ekonomi tidak menjadi pokok soal tetapi politik aliran lebih menentukan.
Kedua, jurnalis sebaiknya juga mulai memetakan peta kepartaian. Di Malaysia seperti tadi disebut adalah politik aliran: Cina, Melayu, India dan suku pribumi. Di Inggris, konsdervatif melawan buruh. Di Indonesia mungkin nasionalisme, religius dan sekularisme. Dengan memetakan aliran dan pemikiran partai ini – untuk tidak dikatakan ideologi – maka akan mudah mengaitkan pemilu itu dengan kejadian aktual hari ke hari.
Ketiga, mosaik ideologi dan aliran politik belum lengkap kalau tidak disertai dengan profil para tokoh yang turun. Siapa saja mereka dan apa pemikirannya. Untuk negara berkembang seperti Indonesia, paternalisme dimana pemimpin menjadi pokok dalam pencoblosan sangat penting memetakan perubahan dan pergeserannya. Lalu dimana saja kekuatan para tokoh ini baik di desa maupun di kota. Apakah kuat di Jawa atau kuat di luar Jawa?
Keempat, selain itu perlu dicatat pula bahwa jurnalis perlu dibekali dengan pisau analisa program yang diajukan parpol. Program tidak hanya mencerminkan paltform partai tetapi juga bisa untuk memaparkan bagaimana satu partai berbeda dengan partai lainnya.
Kelima, analisa geografis juga penting. Posisi daerah dan apakah daerah konflik atau bukan sangat penting untuk memberikan sebuah laporan yang cerdas. Seorang jurnalis tidak hanya memberikan angka tetapi menguraikan lebih dalam apa arti angka-angka hasil pemilu itu dan bagaimana bisa terjadi seperti itu.
Sumber: Journalist-Adventure.com
Tags: jurnalis, jurnalisme


