Pengalaman ini mudah-mudahan tidak terulang lagi. Kereta listrik dengan istilah populer KRL memang nyaman untuk melakukan perjalanan di Jabodetabek alias Jakarta, bogor, depok, tangerang dan bekasi. Namun tampaknya perjalanan yang seharusnya nyaman itu karena manajemen salah urus, bagaikan naik KRL jaman perjuangan kemerdekaan.
Dengan ongkos Rp 1500 dari Tanah Abang - terlalu murah kalau menuru saya - perjalanan ke Tanah Abang bisa ditempuh sekitar 30 menitan. Bandingkan dengan naik mobil sendiri atau bus umum, mungkin memerlukan waktu lebih dari satu jam.
Persoalannya, sarana yang sudah bagus tersedia ini kurang dioptimalkan oleh PT KA. Buktinya masih ada rangkaian gerbong dalam sebuah perjalanan hampir semuanya lampunya tidak nyala ! Para penumpang duduk dalam kegelapan ditengah sesaknya KRL ekonomi - karena tidak ada pilihan lagi kecuali menunggu lebih dari setengah jam.
Apakah manajemen KRL di Jabodetabek ini sedemikian buruknya sehingga tidak seperti KRL AC, gerbong KRL ekonomi itu dibiarkan menjadi rongsokan berjalan. Seharusnya memang neon yang harganya tidak seberapa itu diganti, setidaknya di satu gerbong ini ada satu atau dua yang menyala. Namun luar biasanya dan mengenaskannya, beberapa gerbong nyaris gelap, ditambah dengan suasana yang pengap dan panas.
Saya tidak apa yang dipikirkan oleh para penanggung jawab di KRL ini. Kalau seandainya pimpinan KRL ini duduk dan ikut dalam perjalanan gerbong tanpa sinar di tengah kegelapan malam, niscaya akan sadar bertapa pentingnya neon penerang itu ! Kalau seandainya para petugas karcis yang setia memeriksa para penumpang berani melapor betapa sulitnya menunaikan tugas mereka, mungkin akan berubah.
Celakanya, perjalanan di tengah kegelapan itu tidak berlangsung satu hari tetapi berkali-kali dan nyaris setiap malam ada saja gerbong KRL yang gelap pekat. Apakah para penumpang ini memang sudah tidak ada kontribusinya lagi karena tiket murah ? Bukankah sebagai sebuah perusahaan harus memperhatikan konsumen.
Saya kira jika sikap ini diteruskan, sudah saja tutup jalur KRL itu atau manajemennya ganti saja dengan swasta yang lebih kompeten. Mengapa ? Hanya dengan memasang neon penerangan dan budgetnya murah sangat bisa ditangani. Kalua manajemen tidak mampu saya kira dengan kenclengan sumbangan untuk membeli neon yang harganya beberapa puluh ribu itu bisa dilakukan. Setidaknya selama sebulan kalau diminta sumbangan sejumlah penumpang mau saja, demi keselamatan dan kenyamanan.
Kalau KRL saja yang bentuk gerbong sebagian sudah tidak karuan, tanpa pintu yang jelas dan jendela kadang-kadang amburadul, apalagi kereta jarak jauh seperti ke Rangkasbitung dari Tanah Abang.
Kalau saya mengamatinya seperti gerbong buruh paksa dimana berjalan dalam kegelapan, pengap, lama, berjejal dan tidak ada rasa aman dan nyaman lagi. Perlakuan kepada mereka mengenaskan dan tidak manusiawi. Sudah saatnya para pembela pengguna kereta api atau KRL ini - KRL Mania dkk - turun tangan membenahi masalah kecil ini. Sudah merdeka lebih dari setengah abad namun angkutan kereta harian antar kota dengan ibu kota nyaris seperti angkutan pada jaman ketika Indonesia baru merdeka.
Saya tidak menafikan kemajuan di beberapa bidang KRL ini namun dengan kehadiran KRL tanpa penerangan ditambah lagi kereta yang sama sekali tidak ada lampu -apakah lampunya dicuri atau tidak oleh pengguna - menunjukkan betapa perlakuan yang semena-mena dibandingkan dengan mereka yang naik mobil yang malah membuat macet dan polusi.
Berbeda dengan di London ketika para pengguna ini dimanjakan dengan kenyamanan dan ketepatan jadwal, naik KRL di seputar Jakarta ini bagaikan warga kelas dua yang dibiarkan tanpa ada perhatian. Padahal sudah saatnya transportasi ibu kota ini memang beralih ke kereta, mengurangi polusi dan kemacetan.