Oct 14 2008
Fenomena televisi hiburan Indonesia
Ketika pertama kali menyaksikan televisi Indonesia, setelah absen beberapa tahun, saya terkaget-kaget. Dari pagi sampai tengah malam isinya sinetron. Ada apa dengan televisi Indonesia? Sudahkan kehilangan jati dirinya sebagai pusat informasi dan pembelajaran? Apalagi sinetron yang meski sebagian sudah berbungkus tema Islami, masih berkecimpung masalah perselingkungan dan pertengkaran rumah tangga serta juga percintaan.
Memang ada beberapa sinetron yang kualitas tinggi seperti yang dimainkan Dedi Mizwar namun kebanyakan adalah hiburan yang menyodorkan artis muda belia.
Mengapa begitu banyak sinetron yang ditayangkan? Apakah terlalu banyak jam tayang? Apakah pemasang iklan juga antri? Jika asumsi bahwa siaran televisi tergantung pemasukan dari iklan maka boleh jadi pemasang iklan antri dalam tayangan sinetron ini.
Yang memprihatinkan lagi, sinetron itu ditayangkan tidak kenal waktu. Ketika anak-anak masih sering melihat televisi maka tayangan sinetron lah makanan yang disuguhkan. Lebih buruk lagi jika anak-anak dan remaja rajin menyaksikan berita selebriti yang berkisah - kebanyakan- soal perceraian dan putusnya hubungan satu pasangan. Apa yang bisa dipelajari dari siaran seperti ini.
Tidak adanya komisi pengawasan siaran yang kredibel menyebabkan siaran apa saja bisa dilihat anak-anak.
Di Inggris televisi swasta pada sore hari menayangkan acara hiburan anak-anak dan kemudian disambung denga talk show dan quiz - beberapa televisi juga menayangkan quiz yang berbobot di Indonesia yang sebagian meng-copy dari luar negeri - dan acara reality show untuk dewasa pada malam harinya. Jika televisi swasta atau BBC menayangkan acara yang tidak tepat karena banyak ditonton anak-anak dan remaja, maka komisi siaran akan menegur dan memberi sanksi berupa denda atau pelarangan sama sekali.
Akhirnya saya memilihkan anak menonton Cbeebies lewat televisi berbayar atau Cartoon Network, daripada disuguhi tayangan sinetron dan berita selebriti yang seharusnya tidak dikonsumsi mereka pada usia dini.
Televisi sebagai sumber pendidikan, ilmu dan informasi memang harus segera dikukuhkan sebelum generasi sekarang dijejali dengan berita selingkuh, retak rumah tangga, pertengkaran di depan publik dan berbagai aneka adegan untuk dewasa.

The Road to Allah adalah judul buku karya Jalaludin Rakhmat yang terbaru. Saya baru saja berbincang mengenai buku yang terbit tahun lalu ini. Dalam perbincagan ini ada beberapa kata yang berkesan.
Saya baru saja membaca penggalan cerita dari Tony Buzan dalam bukunya The Power of Spiritual Intelligence. Dia menjelaskan mengapa menulis buku ini. Pengalamannya didekati seorang tua dengan misi menyelamatkan jiwanya padahal dia seorang yang setia kepada logika dan akal sehat.
Mengenal ibunda yang melahirkan kita merupakan sebuah pengalaman batin sangat berharga. Pantas Nabi Muhammad hampir lima belas abad lalu mengatakan, surga ada telapak kaki ibunda. Kebahagiaan hakiki ada dalam ridha ibunda. Restu ibunda merupakan modal penting untuk menggapai kebahagiaan.
Berkebun di belakang rumah ada asyiknya juga. Ya itu, asyiknya saat panen buah-buahan. Saya tidak ingat membeli pohon plum di sebuah toko beberapa tahun lalu. Nyonya di rumah selalu memperhatikan pohon ini dengan memberinya pupuk. Alhamdulillah tahun ini pohon plum berbuah cukup banyak meski ukurannya kecil. Plum itu sejenis apa ya kalau di Indonesia, mungkin semacam buah mangga ukuran kecil. Manis rasanya dan di tengahnya ada bijinya.