Feb 29 2008
Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan dibalik Virus Flu Burung
Diantara buku yang belakangan ini menghebohkan adalah karya Siti Fadilah Supari yang sekarang menjabat Menteri Kesehatan. Jabatannya tidak membuat buku ini terkenal namun kesimpulan wartawan Australia dari wawancara dengan dia dan kajian terjemahan bahasa Inggrisnya yang membuat heboh internasional.
Judulnya biasa saja: Saatnya Dunia Berubah ! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Buku ini bercerita mengenai pengalaman Siti Fadilah Supari saat berhadapan dengan flu burung di Indonesia.
Salah satu pengalaman yang sangat ditonjolkan adalah penggunaan virus H5N1 yang dikirimkan ke WHO. Dalam kesepakatan virus yang dikirimkan ke WHO menjadi milik dunia. Negara asal tidak dapat mengotak atiknya. Namun kenyataannya, negara maju bisa menggunakan kesempatan ini untuk membuat vaksinnya yang kemudian bisa dikomersialkan.
Keluhan Siti Fadilah Supari adalah, Indonesia tidak lagi memiliki hak atas virus itu dan jika vaksin ini dibuat perusahaan asing maka Indonesia bisa mendapatkannya dengan cara membali, tentu dengan harga mahal. Inilah yang kemudian diupayakan dia sebagai menteri agar negara berkembang seperti Indonesia mendapatkan hak dari pengiriman sampel virus tersebut ke WHO.
Katanya, dalam buku itu, sudah ada kesepakatan agar sampel tersebut setelah dikirimkan negara asal bisa mendapatkan manfaatnya. Bukan hanya soal komersial tetapi juga untuk penelitian.
Mengenai “tuduhan” virus dimanfaatkan laboratorium di Amerika untuk membuat senjata biologi, Siti Fadilah Supari hanya mengatakan di dalam bukunya tidak se eksplisit itu. Dia hanya menyebut laboratorium Los Alamos tetapi tidak disebutkan di Amerika Serikat. Akan tetapi dalam sebuah ceramah dia hanya menduga-duga bahwa virus flu burung ini bisa dijadikan senjata biologi oleh Amerika.
Namun menanggapi isu buku itu Nidom menyebutkan bahwa boleh saja ribut soal komersialisasi dan mencari manfaat dari virus itu, yang lebih penting lagi sekarang adalah mengatasi wabah flu burung yang menelan korban terus menerus di Indonesia.
Silahkan simak selengkapnya:
Sungguh saya kagum dengan mereka yang mengalami lompatan spiritual, lompatan yang kemudian mengubah gaya dan pandangan hidup mereka. Tulisan ini dibuat setelah mendapat berita Gito Rollies meninggal hari Kamis. Seorang penyanyi rock yang di akhir hidupnya banyak tampil dalam sinetron inspirasional, sinetron bernafaskan ruhani.
Hidup Tanpa Ijazah adalah judul otobiografi Ajip Rosidi, penulis produktif, budayawan dan tokoh Sunda yang mengelana sampai sekitar 20 tahun mengajar di Jepang. Tentu pertama yang ingin tahu adalah mengapa judulnya menyebut tanpa ijazah? Apakah itu berarti Ajip memang tidak selesai pendidikan yang berijazah?