Aug 04 2008
Back to Indonesia again
Bersyukur, setelah perjalanan udara 12 jam, hidung bisa menghirup lagiĀ udara di Indonesia . Kalau tidak aral melintang, ini adalah awal dari masa tinggal lebih dari satu tahun di Indonesia.
Udara di Jakarta cukup panas saat mendarat dengan Malaysia Airlines. Langsung saya berziarah ke makam ibu dan baru kembali ke Jakarta hari Senin.
Kemeriahan Jakarta sudah terlihat sejak awal dan kemudian dalam perjalanan ke Tasikmalaya, suasana dan mood sebagian dari Indonesia sudah dirasakan.
Kaya dan miskin, masih menjadi ciri dimana-mana. Bangunan rumah kayu sederhana sampai gedung tinggi dan megah bisa hadir berdampingan.
(Masih banyak catatan tersisa, namun kesan ini semoga menjadi awal dari kebaikan)
Sudah seminggu ini sulit mencari waktu melanjutkan tulisan ini. Secara singkat saja ya kesan pertama tentang people
1. Orang Indonesia ternyata pekerja keras. Mereka bangun sejak pagi, membuka gerai jualan atau bergegas ke kantor, meski kenyataan mungkin penghasilannya tidak memenuhi kebutuhan seluruhnya. Namun salut bekerja giat tanpa henti, mengais rezeki mengharapkan berkah. Mereka percaya bahwa kehidupan harus dijalani dengan optimis.
2. Sementara di beberapa media, rasa malu dan geram agaknya perlu diarahkan kepada mereka yang menikmati kue Indonesia tetapi ternyata masih menjadi tikus pencuri. Milyaran dan trilyuran rupiah beredar dalam rangka melicinkan segala tingkah polah. Pengadilan korupsi beberapa kasus belakangan ini menunjukkan gunung es bandit korupsi (istilah dalam media) masih gentayangan menjadikan Indonesia kurus kering dan menjadikan mereka yang bekerja keras sia-sia. Hasilnya tidak seberapa karena kuenya dicuri orang-orang yang disebut petinggi itu.
3. Meski dililit berbagai tekanan, sebagian masih menikmati udara kebebasan di Indonesia. Baru saja saya membaca berita seorang ibu dan anaknya tenggelam mencari kayu bakar dan meninggal mengenaskan. Mengapa mencari kayu bakar harus malam hari? Tafsiran saya mungkin begitu sulitnya beban hidup sehingga harus mengumpulkan kebutuhan hidup sampai larut malam. Inilah tugas berat pemerintah kalau memang berniat memakmurkan masyarakatnya. Ketika kesulitan ini terjadi dimana-mana, ironisnya mall dan tempat belanja penuh dengan anak muda yang menghabiskan rupiah hanya untuk duduk-duduk dan dansa dansi.
4. Kembali soal orang muda, sebagian memang menunjukkan prestasi, dan salut luar biasa bagi mereka. Saya kira mereka yang muda dan kreatif ini perlu diberi ruang lebih besar sehingga di masa datang bisa lebih luas peranannya.
5. Mengenai people ini, saya kira yang masih mahal adalah kejujuran. Tikus koruptor masih banyak menyita kekayaan Indonesia. Kejujuran di pekerjaan dan transaksi bisnis menjadi kemewahan di Indonesia. Padahal, dalam alam modern abad ke-21 ini kejujuran, transparansi dan keterbukaan menjadi mata uang yang laku di negeri-negeri maju.