Sep 01 2008

Renungan awal Ramadhan

Published by asep under Archive

Akhir pekan lalu digunakan untuk berbincang dengan kerabat terdekat. Terungkap sudah uang yang beterbangan di Jakarta ini, mulai uang haram, hasil korupsi sampai dengan uang hasil bisnis makanan yang menguntungkan.

Mumpung bulan Ramadhan sekalian mengingatkan, korupsi di Indonesia sedang diberantas dengan adanya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebuah lembaga yang sejauh ini menjerat beberapa oknum pejabat dan anggota legislatif. Yang luar biasa adalah ulah beberapa pejabat Bank Indonesia atas kepentingan pribadi dan kepentingan lembaga menggelontorkan uang ke lembaga legislatif.

Saya menduga ini yang terungkap saja, apalagi yang tidak terbongkar ! Dengan besaran lebih dari seratus milyar dan bahkan ada anggota DPR yang kemudian mengaku mendapatkan 500 juta rupiah. Ada apa ini?

Korupsi memang sudah menjadi virus dan kanker ganas di beberapa lembaga di Indonesia meski reformasi sudah 10 tahun dan meski sejumlah petinggi sudah dibui karena itu, tidakah mereka jera?

Kelihatan belum kalau tidak ada hukuman mati bagi koruptor seperti di Vietnam atau Cina.

Dari informasi selentingan, beberapa oknum petugas pajak juga menikmati dana milyaran ini entah darimana asalnya. Jika kita menjadi anggota keluarga pejabat yang gajinya kita bisa tebak, apakah kita mau menerima hadiah dari mereka itu? Saya ragu kalau kita menolak. BUkankah kita juga berarti menerima uang haram itu dari anggota kerabat kita baikd dekat maupun jauh untuk kita pakai?

Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk bersih-bersih. Saatnya menolak semua godaan dari harta korupsi itu.

Saya kira dengan besarnya skala korupsi ini tidak heran krisis demi krisis susul menyusul karena uang rakyat dan uang hasil bumi ini dikantungi segelintir oknum penguasa. Teringat bagaimana ketika tahun 1997 pemerintah mencetak uang lebih dari 150 trilyun untuk membantu bank dan pengusaha yang terjera krisis keuangan kemudian ternyata uang itu menguap tidak jelas. Uang itu menguap bagaimana asap ke udara, tidak berbekas. Beberapa trilyun sedang diusut tetapi hanya sedikit saja dari kucuran 150 tilryun itu.

Semoga Ramadhan ini memberkikan kebaikan untuk semua.

No responses yet

Aug 29 2008

Blog mengenai Jakarta

Published by asep under Archive

Sambil melihat-lihat Jakarta dari dekat ternyata banyak juga yang membuat blog mengenai ibu kota Indonesia ini, bahkan ada pula Jakarta daily photo. Hmm sudah sedemikian menarik ya Jakarta sehingga banyak pula ulasannya. Bahkan saya juga sudah pernah berbicara dengan sejarawan Jakarta Mona Lohanda dari arsip nasional. Menarik juga informasinya mengenai Jakarat tempoe doeloe.

Jadi sesudah membuka-buka blog Jakarta ini juga tertarik memberikan sumbangsih sedikit mengenai bagaimana hidup di ibu kota yang macet dan - ini sangat dirasakan - berudara kotor karena mobi, motor dan bus yang berputar-putar setiap hari melepaskan gas monoksida. Tidak jarang sekarang ada sedikit batuk-batuk, mungkin juga sedang adaptasi dengan udara yang berat timbalnya ini.

The Jakarta Indonesia Urban Blog  boleh menjadi pembuka awal. Kebetulan ketemu ketika sedang browsing mengenai sebuah topik.

Dari sini bisa mengalir ke beberapa blog dan situs misalnya Bataviase atau bisa pula mampir di Jakarta Daily Photo.

One response so far

Aug 28 2008

Kereta Listrik yang vital di Jakarta dan sekitarnya

Published by asep under Archive

Saya kira sudah menjadi patokan di negara-negara maju bahwa moda transportasi umum hanya bisa ditempuh dengan kereta api. Dengan gerbong yang bisa mengangkut sampai ratusan orang dan rendah polusi, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak memprioritaskan kereta listrik.

Di London Tube telah menjad andalan memindahkan sekitar tiga juta per hari bahkan membantu komuter sampai zona 6 yang bisa ditempuh sampai satu jam dari satu titik terjauh di Central London.

Kalau Jakarta mau mencegah kemacetan yang semakin hebat, maka kereta listrik pilihan masa depan. Taruhlan kalau masih ada umur 50 tahun ke depan harus sudah ada apa yang namanya kereta listrik.

Potensi ini cukup besar. Pengalaman dari stasiun Sudimara ke Sudirman di tengah Jakarta merupakan sebuah pengalaman mengesankan. Kereta Listrik ini dari segi fisik sudah menyamai apa yang ada di London. Jadwalnya sudah ada dan kecepatan sampai dengan waktu tempuh bisa diandalkan. Dengan KRL ini jarak tempuh hanya setengah jam dari pinggiran Jakarta ke tengah kota. Bayangkan kalau naik taksi atau mobil pribadi, mungkin pada jam sekitar pkl 07.00 jarak tempuh ke titik yang sama di Stasiun Sudirman memerlukan waktu hampir dua jam dan kalau naik taksi bisa sampai Rp 100.000 -an karena tertahan macet dan keluar masuk tol.

Anehnya potensi ini tidak pernah digali oleh pemerintah. Sungguh sebuah ironi. Jika efisiensi dijadikan patokan maka KRL adalah pilihan masa sekarang dan masa depan.

Kalau tadi kereta secara fisik nyaman lain lagi dengan stasiunnya. Taruhlah Sudimara di daerah Bintaro sebagai sample. Wah semrawut, kotor dan tidak menunjukkan stasiun modern. Mulai pedagang, pengunjung dan berbagai orang numpuk di stasiun, apalagi giliran kereta kelas ekonomi datang semakin sibuk saja.

Saya kira dengan polesan sedikit dan ketertiban yang lebih baik lagi, setidaknya bisa menyamai stasiun kereta api di Malaysia yang asri dan bersih meski sama-sama panas kalau siang hari.

No responses yet

Aug 27 2008

Kemerdekaan dan kemiskinan

Published by asep under Archive

(tulisan ini sebenarnya berkaitan dengan 17 Agustutan-an tapi sudah terlambat)

Kalau kita menengok ke sekeliling terutama di perkotaan, kesan tampak memang gemerlap bangunan dan mall. Tidak hanya itu, mall, hypermarket dan segala bentuk supermarket ini selalu penuh. Bernakah itu hasil kemerdekaan selama 63 tahun itu?

Sebagian memang demikian.

Namun mayoritas masih berada di bawah garis kemiskinan. Inilah yang lebih dirasakan dari sekedar gebyar upacara dan acara kemerdekaan.

Bagaimana keluar dari kondisi ini ? Inilah pertanyaan sangat penting kalau melihat nasib kebanyakan masyarakat Indonesia di tengah kekayaan alam yang luar biasa.

Kalau melihat kebiasaan dan budaya di Indonesia perbaikan tampaknya harus dimulai dari kelas elit baik dari ekonomi, militer, politik dan bahkan mungkin budaya serta pendidikan.

Sayangnya sampai sekarang sebagian kalangan elit ini tidak memuaskan untuk menjadi pemimpin yang benar-benar diikuti masyarakat. Tampaknya harus menunggu sebelum kalangan inti elit ini benar-benar dedikasinya untuk kemajuan negeri bukan memperkaya diri dan kerabatnya.

No responses yet

Aug 13 2008

Berharganya Busway di Jakarta

Published by asep under Archive

Bagi yang sudah lama meninggalkan kota Jakarta - sekitar tujuh tahun absen dari deru dan debu ibu kota - busway yang pernah dicemoohkan memang cukup penting. Setidaknya jika seseorang yang menggunakan angkutan umum berangkat dari Semanggi untuk mencapai Bundaran HI tidak perlu bersusah payah lagi.

Taksi bukan penyelesaian tapi malah bikin macet. Apalagi kendaraan pribadi, tambah macet Jakarta. Sementara angkutan umum seperti Metro Mini atau bus kota tidak nyaman dan kadangkala tidak aman, karena sudah menjadi rahasia umum tempat beroperasi copet.

Busway dengan tarif Rp 3500 memang merupakan sebuah alternatif penting bergerak dari satu titik ke titik lain. Tidak hanya dari Semanggi tetapi jika bepergian sore hari atau malam di jam-jam macet jalan, busway jadi alternatif berharga. Jika kita naik taxi pun menempuh jalan Thamrin dan Sudirman pada jam 1900 maka kita tidak bisa dengan mudah menembus jalan yang dijejali motor, mobil dan bus.

Meski busway ini penting, tapi banyak yang lebih memilih kendaraan pribadi. Ini mungkin terkait dengan kebiasaan yang sudah lama. Di negara-negara lain, angkutan umum menjadi pilihan untuk berjalan ke dan dari kantor. Selain kebiasaan tentu saja mungkin gengsi.

Namun ini harus dibayar mahal dengan polusi udara yang pekat membahayakan semua penduduk Jakarta, biaya bahan bakar yang besar karena macet terus setiap hari dan tentu juga secara ekonomis sangat berat.

Bagi seorang yang pernah menjadi bagian dari sekitar 3,5 juta komuter yang datang dan pergi dari pusat kota London, kelemahan mencolok adalah memang transportasi umum. Singkatnya kendaraan umum di Jakarta dan sekitarnya tidak teramalkan datang dan perginya.

Pengguna kendaraan umum menjadi warga kelas tiga barangkali karena sebagian besar memilih kendaraan pribadi. Bahkan suatu kali saya menyaksikan langsung seorang yang naik sedan marah-marah kepada sopir bus kota di depan Komdak dengan alasan mobilnya tersenggol. Padahal jelas dia yang salah mau menyalip. Mungkin seorang oknum penguasa yang berani memarahi sopir bus kota yang tampak ketakutan. Malah semua penumpang diperintahkan turun gara-gara mereka protes dengan ulah oknum tersebut. Begitulah gambaran sedikit naik angkutan umum di Jakarta.

Di London penumpang angkutan umum dimanjakan dan diutamakan. Bahkan pengguna kendaraan pribadi yang masuk tengah kota dikenakan biaya cukup mahal lebih dari lima poundsterling sekali masuk, belum biaya parkir yang sangat mahal.

Untuk jangka panjang, ini pikiran saya, harus dipikirkan setelah busway adalah memperbanyak dan memperluas jaringan kereta api yang sudah ada. Ide monorail memang ideal meski sulit dipraktekan untuk jangka panjang. Namun sebuah keniscayaan bahwa transportasi berbasis kereta rel ini harus diwujudkan, kalau tidak penduduk jakarta bisa habis umurnya kena macet di jalan.

One response so far

Aug 04 2008

Back to Indonesia again

Published by asep under Archive, Blog

Bersyukur, setelah perjalanan udara 12 jam, hidung bisa menghirup lagi udara di Indonesia . Kalau tidak aral melintang, ini adalah awal dari masa tinggal lebih dari satu tahun di Indonesia.

Udara di Jakarta cukup panas saat mendarat dengan Malaysia Airlines. Langsung saya berziarah ke makam ibu dan baru kembali ke Jakarta hari Senin.

Kemeriahan Jakarta sudah terlihat sejak awal dan kemudian dalam perjalanan ke Tasikmalaya, suasana dan mood sebagian dari Indonesia sudah dirasakan.

Kaya dan miskin, masih menjadi ciri dimana-mana. Bangunan rumah kayu sederhana sampai gedung tinggi dan megah bisa hadir berdampingan.

(Masih banyak catatan tersisa, namun kesan ini semoga menjadi awal dari kebaikan)

Sudah seminggu ini sulit mencari waktu melanjutkan tulisan ini. Secara singkat saja ya kesan pertama tentang people

1. Orang Indonesia ternyata pekerja keras. Mereka bangun sejak pagi, membuka gerai jualan atau bergegas ke kantor, meski kenyataan mungkin penghasilannya tidak memenuhi kebutuhan seluruhnya. Namun salut bekerja giat tanpa henti, mengais rezeki mengharapkan berkah. Mereka percaya bahwa kehidupan harus dijalani dengan optimis.

2. Sementara di beberapa media, rasa malu dan geram agaknya perlu diarahkan kepada mereka yang menikmati kue Indonesia tetapi ternyata masih menjadi tikus pencuri. Milyaran dan trilyuran rupiah beredar dalam rangka melicinkan segala tingkah polah. Pengadilan korupsi beberapa kasus belakangan ini menunjukkan gunung es bandit korupsi (istilah dalam media) masih gentayangan menjadikan Indonesia kurus kering dan menjadikan mereka yang bekerja keras sia-sia. Hasilnya tidak seberapa karena kuenya dicuri orang-orang yang disebut petinggi itu.

3. Meski dililit berbagai tekanan, sebagian masih menikmati udara kebebasan di Indonesia. Baru saja saya membaca berita seorang ibu dan anaknya tenggelam mencari kayu bakar dan meninggal mengenaskan. Mengapa mencari kayu bakar harus malam hari? Tafsiran saya mungkin begitu sulitnya beban hidup sehingga harus mengumpulkan kebutuhan hidup sampai larut malam. Inilah tugas berat pemerintah kalau memang berniat memakmurkan masyarakatnya. Ketika kesulitan ini terjadi dimana-mana, ironisnya mall dan tempat belanja penuh dengan anak muda yang menghabiskan rupiah hanya untuk duduk-duduk dan dansa dansi.

4. Kembali soal orang muda, sebagian memang menunjukkan prestasi, dan salut luar biasa bagi mereka. Saya kira mereka yang muda dan kreatif ini perlu diberi ruang lebih besar sehingga di masa datang bisa lebih luas peranannya.

5. Mengenai people ini, saya kira yang masih mahal adalah kejujuran. Tikus koruptor masih banyak menyita kekayaan Indonesia. Kejujuran di pekerjaan dan transaksi bisnis menjadi kemewahan di Indonesia. Padahal, dalam alam modern abad ke-21 ini kejujuran, transparansi dan keterbukaan menjadi mata uang yang laku di negeri-negeri maju.

2 responses so far

Jul 28 2008

Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia

Published by asep under Archive

Apakah Anda punya mimpi yang besar saat ini? Jangan takut bermimpilah yang indah, yang besar dan yang luas. Jangan khawatir dengan impian Anda. Itulah kira-kira pesan Jamil Az Zaini dalam bukunya  Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia.

Jamil Az Zaini membuktikan dengan pengalaman hidupnya sendiri bahwa masa kecil yang bermimpin indah menuntunnya sukses meraih impian.

Berbeda dengan beberapa buku mengenai cerita sukses, Jamil Azzaini mencoba merangsang pembaca untuk terbangkitkan semangatnya. Dia menuturkan dengan gaya yang enak dibaca.Buku mengenai kisah-kisah inspiratif yang berasal dari pengalaman higup ini tampaknya sedang menjamur di Indonesia. Menurut salah seorang pembaca Menyemai Impian ini, Lies Sudiarti, penuturan dalam buku ini mudah dipahami.

Sementara , Farid Poniman yang menulis katar pengantar dalam buku ini menyebutkan, Jamil Azzaini bisa mencantumkan skema pemikirannya dalam buku ini.

Dengarkan selengkapnya dalam Kabar Buku BBC

No responses yet

Jul 27 2008

Bagaimana mencari suvernir murah di London

Published by asep under Blog

.Sebelum meninggalkan London minggu ini, pertanyaan yang sering diajukan adalah bagaimana mencari suvernir murah? Dimana bisa mendapatkan cindera mata di London? Apa saja suvernir yang bisa dibawa pulang?

Sudah delapan tahun tinggal di London, tapi tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Baru-baru ini jawabannya salah satunya bisa ditemukan.

Untuk mendapatkan suvernir murah baik gantungan kunci London, baju kaus atau cindera mata khas London dan Inggris.

Alamatnya 6 Queensland, London W2 4RX.  Nama tokonya: G.B Souvenirs & Gifts Limited

Kita sebaiknya naik Central Line kemudian turun di Bayswater Station, persis di depan stasiun kita bisa menemukan toko cindera mata itu. Temui Mr Hanif disana dengan menanyakan ke penjaga disana. Kalau lagi beruntung, Mr Hanif akan banyak menawarkan diskon besar dan malahan bisa negosiasi. Hampir semua fix price bisa dirundingkan. Sepanjang pengetahuan saya, jarang di London ada toko memberikan diskon jika membeli banyak suvenir.

Selain di kawasan Bayswater, toko ini juga hadir di Paddington, juga kawasan yang sering menjadi tempat menginap para wisatawan.

One response so far

« Prev - Next »